PPBI VII Bima, Fardu Kifayah Untuk Umat Pengamat Burung Indonesia

Saya sempat tidak yakin akan berangkat ke Bima. Perhelatan Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) VII tahun 2017 sempat saya anggap hoax. Semua pembicara yang diharapkan datang berbagi ilmunya ternyata tidak ada yang hadir. Peserta sampai H-7 masih 1 orang. Ketua panitia tiba-tiba menghilang ditelan keriuhan facebook. Panitia yang tersisa, laman facebook-nya dipenuhi status-status galau dan kekecewaan terhadap hidup yang mereka anggap tidak adil. Padahal, kalau perhelatan tahunan para amatiran ini sampai gagal, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan dunia para amatiran di masa datang. Continue reading “PPBI VII Bima, Fardu Kifayah Untuk Umat Pengamat Burung Indonesia”

Advertisements

Wow! Ditemukan Spesies Burung Baru di Jawa!

Saya sempat terhenyak beberapa hari yang lalu. Seperti biasanya saya suka buka The Handbook of the Birds of the World, busyett panjang banget judulnya, kita singkat saja jadi HBW. Ini yang versi alive, alias online. Dua tahun kemarin sebenarnya ingin beli versi bukunya yang gedenya kayak kulkas itu, dan ada 17 seri! Serial Goosebumps aja gak ada apa-apanya. Tapi begitu tahu ada versi online-nya, saya pikir itu lebih masuk akal daripada nanti kemana-mana harus bawa kulkas.

Continue reading “Wow! Ditemukan Spesies Burung Baru di Jawa!”

Sumba Part V: Demi Tuhan Saya Akan Kembali!

Jadi ini adalah tulisan ke 5 tentang Sumba. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Sumba 5 tahun yang lalu, hatiku telah tertambat. Jatuh cinta kepada dingin malamnya, hamparan savananya, kuburan batunya, rumah panggung kayu dan atap ilalangnya, anak-anak kecil yang riang menyapa sambil melambaikan tangannya, dan yang pasti burungnya. Hampir semua bayangan muluk tentang tanah dengan eksotisme biodiversitas dan kehidupan etnik kumpul jadi satu di pulau itu. Sumba adalah satu-satunya pulau yang selalu aku rindukan untuk kembali. Continue reading “Sumba Part V: Demi Tuhan Saya Akan Kembali!”

Pembangunan Tanpa Kedaulatan

Dulu saya sangat mencintai kota kecil ini. Dataran tinggi di lembah yang diapit oleh gunung Arjuno-Welirang, Kawi, dan Peg. Tengger. Kota ini berdiri di atas hamparan tanah surga. Pertanian dan hutan hidup rukun. Masyarakat agraris yang ramah. Mata air berhamburan di mana-mana.

Dulu ketika saya masih kecil, pemuda kampung saya bisa bermain bola basket di tengah jalan protokol. Saking sepinya kota ini. Dari teras rumah saya memandang ke semua penjuru mata angin hamparan gunung-gunung yang mensuplai air, oksigen dan mineral tanah yang membuat tanah kami sebegitu suburnya. Karena tidak banyak bangunan di kampung saya.

Setiap pagi saya suka menggores embun yang menempel di kaca jendela, menggambar apa adanya sebelum dia menguap seiring siang mendekat. Salah satu hobi saya adalah mlinteng burung. Saking banyaknya burung di kota kami, kemanapun ketapel saya mengarah, pasti kena! Continue reading “Pembangunan Tanpa Kedaulatan”

Mistisisme Sains Modern

Sadar gak, bahwa sebagai manusia modern (yang mengakui dirinya generasi rasionalis) dalam keseharian kita masih percaya dengan klenik? Tidak hanya percaya, bahkan “menyerahkan” hidup kita kepadanya? Tidak sedikit pula yang mentuhankan! Ya, kita semua! All of us! No exception!

Di saat yang bersamaan. Kita mengutuk keklenikan yang lain!

Ghaib, kalau saya rangkum dari berbagai literatur, memiliki definisi: sesuatu yang tersembunyi. Artinya, apapun itu yang di luar jangkauan pengetahuan dan indera kita masuk dalam golongan makhluk ghoib. Entut jelas masuk daftar. Tapi saya tidak sedang membicarakan makhluk mulia yang satu itu. Biarkan dia menjadi rahasia terenak hidup kita.

Ketika seseorang sakit, dia percaya bahwa dokter, resep obat, dan obatnya akan menyembuhkan sakitnya. Tapi ketika dia dibawa ke dukun, orang pintar, tabib, atau apalah namanya, serta merta dia nyinyir sambil mengkutuk “dasar klenik!”. Padahal apa bedanya dukun sama dokter? Apa bedanya obat dengan perewangan si dukun? Continue reading “Mistisisme Sains Modern”

The Power of Pekok – the Beginning

Sepertinya saya mulai menemukan jalan tulisan yang akan saya tumpahkan di blog ini. Tak terhitung berapa kali saya mencoba memulai menulis setelah bertahun-tahun angkat kaki dari dunia kata -dan menetap di dunia bentuk dan warna. Bahkan blog lama saya harus rela saya yatimkan hidupnya karena saking lupanya sama password login ke wordpress admin.

Dulu saya suka menulis pengalaman pekerjaan dan perjalanan nasib yang sebenarnya gak keren-keren amat untuk jadi tulisan. Atau, sebagus-bagusnya sok jadi pengamat politik, sosial, agama atau sepakbola. Sesekali berakting jadi fotografer. Satu-dua kali berlagak jadi penulis. Dan seterusnya… dan seterusnya… Jadi, apakah saya akan mengulangi genre tulisan lama ke blog ini? Bisa ya bisa tidak. Yang pasti ada banyak manusia sehat akalnya yang merindukan tulisan saya.

Domain sikebo.me ini bahkan sempat saya non-aktifkan karena saking pekoknya kepala saya untuk bahkan membuat sebuah tulisan ringan. Dan hari ini, saya putuskan, http://www.sikebo.me akan bangkit dari kepekokannya dan menengadahkan kepala menatap langit! Langit-langit rumah maksudnya. Mengumpulkan segala daya, kekuatan, teknik, bahan dan alat dari sebuah Power of Pekok! Hahaha… Continue reading “The Power of Pekok – the Beginning”

Imam Hacker

Saya bukan orang yang pandai merespon tren isu menjadi sebuah tulisan. Meskipun Ahox benar-benar jadi penista agama atau bukan, itu tidak menjadi alasan saya untuk menulis tentang Ahox. Dan saya juga tidak tertarik dalam pusaran kebodohan pertentangannya. Ahox mau jadi gubernur lagi, apa mau dipenjara, apa mau jadi mu’alaf selama tidak ada keadilan yang terlanggar, itu tidak akan menjadi masalah saya.

Justru yang menjadi masalah saya adalah kenapa sekarang begitu banyak “sampah” berserakan di wall fesbuk saya. Saya bersyukur terjerembab tidak di banyak sosmed. Cukup fesbuk karena banyak teman dunia nyata saya yang tinggal di sana. Google+ karena itu lapak buat cari nafkah. Dan terakhir, whatsapp karena sejak pertama pegang smartphone 7 tahun yang lalu dia sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial saya.

Continue reading “Imam Hacker”

Gerakan Senyap Atlas Burung Indonesia

Biasanya selepas dari lapangan, hunting foto burung, saya langsung bergegas melarutkan diri dalam ribuan file-file JPEG. Memilah, mengedit, mengagumi diri sendiri. Mengunggah ke laman medsos sambil terus nyileki notifikasi kali aja ada yang kasih like atau komentar. Atau bikin tulisan lebay di blog ini. Tapi sepertinya kali ini saya terpaksa harus menahan libido itu.

Adalah pada Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) V di Bandung akhir November ini sebuah momentum besar terjadi, setidak itu yang saya lihat. PPBI adalah pertemuan rutin tahunan para pengamat burung seluruh Indonesia. Diawali tahun 2007 silam, agenda rutin yang sempat mengalami tidur panjang 5 tahun. Momentum tahun 2012 pada PPBI II di Jogja adalah jam alarm yang membangunkannya dari tidur panjang. Dan sejak saat itu PPBI lumayan konsisten dihelat setahun sekali. Continue reading “Gerakan Senyap Atlas Burung Indonesia”

Nadahi Cipratan Duite Google

Sudah hampir setahun blog ini sepi dari apdetan. Bukan sepi dink, tapi memang gak ada apdetan sama sekali. Maaf sodara-sodara…

Setahun lalu saya memang memutuskan hubungan dengan aktifitas keseharian saya, kecuali pekerjaan formal, sebagai tukang foto keliling, tukang nginceng manuk dan tukang ndobos ngalor-ngidul. Tapi saya bukan bang Toyib yang nunggu 2 kali lebaran gak pulang-pulang. Cukup setahun sajalah ngumpet di dalam goa, lalu memasang antena setinggi-tingginya untuk menggapai dunia yang lebih luas. Continue reading “Nadahi Cipratan Duite Google”