Oleh-oleh Dari Surabaya

Datang sebagai juri di Surabaya kemaren sebenarnya bukan satu-satunya alasan aku meluncur ke sana. Tapi karena saking kepinginnya berburu burung air di Wonorejo yang sudah kondang ngaloka itu. Ehh… ternyata lokasi lomba nggak di Wonorejo tapi di Gunung Anyar. Bener-bener di luar perkiraanku, karena burung di sana sangat jual mahal. Susahnya minta ampun dimintai foto. Tapi ya sudahlah, kalo dipikir-pikir lumayan juga dapat dua jenis baru: Mandarpadi Sintar dan Trinil Rawa.

Advertisements

Ayo, Kumpul Kebo!

Gendheng! Dagelan apa lagi ini?” tanya kawan saya.

Ono opo cak?” tanya saya menimpali.

Mosok rek, nikah sirih gak boleh? Habis merokok diharamkan, golput haram, 2012 haram, sekarang malah nikah sirih ikut-ikut diharamkan.” jawab dia dengan nada yang agak tinggi.

“Oalah, itu to? La terus, gendhengnya dimana?” balasa saya bertanya.

“Lha iya gendheng ta cak, la wong sesuatu yang halal kok diharamkan, malah banyak yang diharamkan oleh agama justru dihalal-halalkan!” tegas dia, “Dan yang mengharam-haramkan itu tidak lain orang-orang Islam yang mengatasnamakan dirinya mewakili umat Islam!”

“Lho, bukannya melarang nikah sirih itu maksudnya untuk menolong para wanita yang dijadikan korban sama lelaki-lelaki yang hanya memperalat legalitas nikah sirih untuk melampiskan nafsu syahwatnya saja cak? Habis itu colong playu tinggal glanggang!” saya mencoba memanas-manasi dia.

“Lha kalo itu masalah akhlak, ndo!” sanggah dia. “Dan hukum negara, apapun bentuknya tidak akan pernah bisa menyentuh wilayah akhlak yang sangat privat dan rahasia.” wow sekarang dia mulai berteori.

“Jadi ini adalah bentuk intervensi negara terhadap kehidupan pribadi seseorang, gitu maksudnya sampeyan?” saya menegaskan.

“Betul. Tapi bukan intervensinya yang bermasalah. Lha kalo ada orang yang perilakunya suka mengganggu tetangga-tetangganya, ya intervensi negara melalui hansip atau polisi justru perlu. Tapi ini nikah sirih e, ndo. Sesuatu yang jelas halal kok diharamkan.” argumentasi dia mulai analitis.

“Meskipun tidak dicatat negara, memangnya semudah itu orang nikah sirih trus kawin lagi? Gak gampang cak, tetangga-tetangga sampeyan tetap akan jadi wartawan infotainment yang setiap saat memantau status sampeyan lalu mengabarkan kepada seluruh warga kampung kalo sampeyan kawin lagi. Dan kalo sudah masuk forum ngrasani, sebaik-baiknya sampeyan tetap saja akan dibahas melalui perspektis rasan-rasan yang destruktif informasi dan makna.” waaa… boleh juga ne kawan saya.

“Apakah ada jaminan, kalau sampeyan nikah resmi agama trus sampeyan gak kawin lagi dan kawin lagi? Lak yo cuma PNS aja to yang dilarang punya istri lebih dari satu.” lanjut dia

“Punya istri dua dengkulmu mlontos! Satu saja belum punya mau minta dua!” balasku tapi dalam hati saja.

“Wacana pelarangan nikah sirih ini jelas akan merusak makna sakral kawin sirih yang justru seharusnya diagung-agungkan sehingga punya nilai moral yang sangat mengikat dalam masyarakat kita. La kalo nikah sirih dilarang, diharamkan, kan maknanya jadi tidak beda dengan zina! Pelacuran aja gak dilarang asal dilokalisir dan lonte-nya wajib pake kondom dan cek kesehatan rutin. Trus nikah sirih yang jelas-jelas tidak keluar dari hukum agaman yang dianut dan disepakati oleh umat kita kok malah diharamkan! Pancen mbokne ancuk arek-arek iku!!” sepertinya dia benar-benar tidak menerima logika pelarangan nikah sirih ini.

“Trus enaknya gimana, Cak?” tanya saya, dan mungkin sebaiknya disimpulkan saja pembicaraan ini sebelum terjadi pertikaian berdarah.

“Ya enaknya, kalo sampeyan bosan sama istri sampeyan. Gak usah repot-repot nikah lagi. Karena nikah resmi negara jelas gak boleh karena sampeyan PNS, nikah sirih juga dilarang, jadi mending nglonte saja! Kumpul kebo!” jawab dia yang langsung saja balas dengan kata dalam hati: sampeyan betul cak, tapi jebule sing gendheng iku sampeyan, cak!

Juri Kok Kaget Sama Hasil Penilaiannya Sendiri

Baru kali ini, seumur hidupku, kok ada juga yang percaya kalo saya bisa jadi juri birdrace. Dan saya sendiri, kok ya bisa-bisanya mau jadi juri. Seperti ada kekuatan yang sangat kuat yang membuat saya tidak bisa menolak permintaan melalui telpon, “Mas Swiss, bisakan bantu kami jadi juri birdrace?” tepat 2 hari sebelum hari H lomba berlangsung!

Dan sampailah saya di Kampus ITS, kampus yang seandainya ada mahasiswa yang mau nyambi bikin tambak, saya jamin dia gak akan bingung utang sana utang sini di akhir bulan, karena saking banyaknya kolam-kolam yang berpotensi untuk pembiakan ikan. Bisa juga kodok, ular dan biawak.

Seperti biasanya, jadwal lomba dari tahun ke tahun selalu begitu: kumpul, pembukaan, briefing, pengamatan, penilaian, pengumuman, foto-foto dan pulang. Cuma untuk kali ini, ada panggung hiburan yang diisi oleh kelompok anak-anak jalanan dari sanggar “Padang Alang-alang”, beberapa panitia juga ikut nunut unjuk kebolehan nyanyi atau gitaran di atas panggung. Lha saya, sama 2 juri lainnya, Uút dan Londo, dengan terpaksa tidak bisa ikut party-party di luar karena harus ngoreksi hasil lomba. Mliliki satu per satu sketsa peserta mulai dari yang sangat bagus sampai yang sangat rusak. Dengan berbagai macam cara menulis nama Indonesia, Inggris dan Latin yang tentunya sangat menyiksa pupil dan retina mata saya. Dan hal itu terjadi selama dua malam, malam pertama sampai jam 5 pagi dan malam kedua sampai jam setengah 4 pagi!

Untuk menghindari subyektifitas, saya berusaha tidak mau tahu anggota kelompok masing-masing tim. Karena banyak juga dari peserta yang saya kenal baik, bahkan ada juga yang dulu adalah bimbingan saya waktu di Jogja. Pokoknya sketsa gak kebaca langsung kasih nilai minimal, bahkan nol sekalipun. Itupun sudah saya perlebar selebar mungkin ruang toleransi saya terhadap kesalahan penulisan nama. Karena saya sadar, kondisi di lapangan sangat tidak memungkinkan untuk menggambar atau menulis dengan rapi dan sempurna bagus.

Dan sampailah di acara pengumuman juara. Mulai dari juara potensial, juara III dan juara II saya masih tidak heran, mengingat mereka-meskipun banyak juga pemain baru- adalah pemain yang sudah sering ikut lomba kayak begini. Tapi yang membuat saya kaget , kaget terhadap hasil penilaian saya sendiri, adalah ketika diumumkan juara I adalah dari kelompoknya Bintang! Namanya Al-Soneta. Lha kok bisa?

Bintang adalah pengamat burung muda yang dulu sering saya ajak jalan-jalan ke lapangan, saya fasilitasi bikin kelompok pengamat burung di sekolahnya waktu dia SMP dan saya memang sangat akrab betul sama dia dan keluarganya. Wuaduh… semoga saja tidak ada yang beranggapan kalo saya sedang melakukan KKN.

Selamat Buat Keluarga Bebek Nyonyor

Seperti biasa, agenda hunting selalu saja tidak terjadwal. Selalu spontan dan tiba-tiba. Kemaren pagi, di hari yang cerah, dan perut yang terasa lapar. Pukul 06.00, setelah bangun pagi yang kedua (bangun pagi pertama shubuh trus tidur lagi), ada sesuatu yang melesat di kepala. Aku harus ke lapangan hari ini!

Tanpa berpikir panjang, dan tanpa sikat gigi juga (seperti biasanya), langsung saja aku meluncur ke ruang PEH. Sahabat terbaikku di Baluran : Nikon D200 dan Sigma F5-5.6 170-500mm sepertinya sudah tahu kalo aku akan meluncur pagi ini, sudah menunggu.

“Mau kemana, Ndan?” sapanya sambil bertanya.

“Hmmm..kemana ya?”  jawabku pura-pura bingung.

“Gimana kalo ke Gatel saja?” Dia memberi usul. “Sekalian ngecek burung migran.” Sekarang dia memberi justifikasi.

“OK!”

Berangkatlah kami menuju Gatel. Salah satu tempat terbaik ngamati burung air di Baluran. Kurang lebih 25 km dari kantor Batangan tempat kost gratis dimana saya tinggal yang di depannya terdapat papan bertuliskan  “Pos Pengamanan Taman Nasional Baluran” . Gatel terletak di ujung barat laut Baluran, berbatasan dengan pemukiman.
Lokasi wajib yang harus didatangi di kawasan ini adalah pertambakan, tempat dimana Bubut Jawa juga sering terpantau. Tidak terlalu luas, tapi bukan lokasi yang mengecewakan untuk berburu foto burung air. Burung idola di lokasi ini tidak lain adalah Bebek Nyonyor (baca: Itik Benjut dalam nama Indonesia). Kenapa idola? Karena pertama, jumlahnya tidak banyak. Kedua, sangat susah didekati. Ketiga, kalaupun ditunggu di tempat strategis juga gak mau mendekat. Dan keempat, jarang teramati.

Alasan keempat, setelah saya sadari, ternyata tidak berlaku untuk satu bulan terakhir. Karena di 4 pengamatan terakhir saya, dia selalu tercatat dengan sukses. 2-7 ekor. Ada apakah gerangan?

Jawabannya mungkin bermula dari adegan kejar-kejaran dengan si Bebek Nyonyor ini.

Konon, di suatu kolam tambak yang tidak terpakai, berkumpullah 7 ekor Bebek Nyonyor ketika saya baru mendarat di sana. Bersama dengan seekor kuntul unidentified, dan beberapa anggota bani scolopacidae, bebek-bebek itu dengan tenangnya berenang dan mencari makan. Aku parkir si Wiwin (motor kesayanganku) di tempat yang agak jauh dan teduh. Lalu aku mulai mendekat ke kolam, setelah dikira sudah cukup dekat, akupun mulai tiarap, merangkak mendekat. Sambil merangkak di balik rerumputan dan gundukan tanah mungkin cara terbaik supaya tidak kepergok burung sensitif ini. Dan syukurlah, akupun bisa mencapai bibir kolam, titik terdekat dengan keberadaan mereka tanpa kepergok. Setelah mengatur nafas yang agak ngos-ngosan sehabis merangkak karena udara juga panas, akupun segera rise my head. Ndasku njendul. Perlahan-lahan, aku mulai bisa melihat dari dekat kelompok burung cantik ini, dan bersamaan dengan itu, bebek-bebek itu juga sudah menatap mataku yang sudah terlanjur mati gaya. Dalam hitungan kurang dati 3 detik… kwik…kwik…kwik… merekapun terbang menjauh.

WEDHUS!!

Dan adegan ini terjadi sampai tiga kali. Merangkak dan belepotan lumpur tambak ternyata belum bisa meluluhkan hatinya. Pada usaha yang kedua, aku coba tunggu mereka di tepi kolam yang agak jauh, dengan harapan mereka akan mendekat ke posisi tempatku menunggu. Ternyata gak mempan juga padahal sudah habis tiga batang GG Inter.
Nah, konon itu berujung pada adegan kejar-kejaran yang keempat. Di suatu kolam kecil yang terisolir oleh genangan air di tepi-tepi galengan kolam di sekelilingnya. Skenarionya tidak jauh berbeda: masuk ke endapan lumput selutut sambil mendekat; dan endingnya pun juga bisa ditebak: mereka jijik melihatku lalu terbang menjauh.

Tapi tunggu dulu! Sepertinya endingnya gak begitu, ada yang gak mau terbang! Atau lebih tepatnya gak bisa terbang! Mereka adalah empat ekor balita Itik Benjut! Seiring induknya yang pergi, mereka menyusul dengan berenang masuk ke kerumunan akar dan ranting Beluntas. Lalu bersembunyi. Ooo.. jadi ini to yang bikin bebek-bebek itu tinggal lama di lokasi ini? Mereka sedang mangayu bagyo karena dikaruniai bocah-bocah lucu.

Karena belum sempat dapat foto yang kinclong. Maka tidak ada pilihan lain, aku harus menunggu mereka keluar sambil sembunyi. Tapi tidak ada tempat bersembunyi yang bagus, karena semua hanya rumput pendek dan beluntas yang terlalu rapat dan gatal untuk diterobos. Hanya ada satu pohon yang sepertinya available untuk bersembunyi: Acacia nilotica!! Nah kon, panganen iku akasia!

Tapi gak apa-apalah. Demi mendapatkan foto balita-balita dari burung paling menyebalkan, duri akasia pun serasa jarum refleksi yang mancep di kaki, pundak, sikut, paha dan tanganku. Sambil sesekali misuh WEDHUS!

Dan selesailah konon itu, balita Itik Benjut keluar dari persembunyian lalu berenang dengan tenang, tidak tahu tahu kalo ada yang mengawasinya, memotretnya berpuluh-puluh sambil tersenyum puas meski sekali lagi harus misuh, WEDHUSSSS! Karena kali ini yang kecokrok duri akasia adalah telingaku.

.

**burung-burung lain yang gak sengaja nyantol di lensa D200