Tahura R. Soeryo, Surga Biodiversitas yang Terlupakan

Lembah Cangar

Tahura R. Soeryo atau yang lebih dikenal oleh orang umum sebagai Cangar itulah yang telah memikat hatiku. Tak terhitung berapa kali saya ngrasani hutan tropis pegunungan di kaki gunung Arjuno itu. Tak terhitung pula kekaguman saya setiap datang kesana lalu pulang dengan ber-giga-giga foto di memory card.

Sebagai salah satu catchment area yang mensuplai air bersih di Malang, Mojokerto, Surabaya Pasuruan dan sekitarnya, Gunung Arjuno beserta rangkaian pegunungan di sekitarnya adalah kawasan lindung dan juga kantong biodiversitas yang sangat penting. Saya tidak bisa bicara data, karena ternyata sangat susah mencari data keanekaragaman biodiversitas di hutan dingin ini. Jadi karena saya cuma tukang foto, bukan peneliti serius, kalau ditanya orang, “Berapa banyak keanekaragaman hayati di gunung Arjuna?” maka dengan sangat yakin saya jawab, “Buanyak! Luar Biasa! Allahu Akbar!”. Continue reading “Tahura R. Soeryo, Surga Biodiversitas yang Terlupakan”

Advertisements

Ramadhannya NU (apakah) Ramadhannya Muhammadiyah (juga?)

“Posone mulai kapan, Cak ? (Puasanya mulai kapan, Mas?)” Tanya seorang ibu kepada bapak-bapak di sebuah warung di dekat pos Baluran.

“Ketoke Rabu, Yuk.(Sepertinya Rabu, Mbak)”  Jawab bapak itu.

“Bareng ta awake dewe karo Muhammadiyah? (Bersamaan ya kita sama Muhammdiyah?)” Tanya si ibu lebih lanjut. Awake dewe yang dimaksud adalah merujuk ke NU. Di tempat saya bekerja, Situbondo, seperti halnya di tempat lain di Jawa Timur, NU diibaratkan Islam itu sendiri. Bahkan mereka banyak yang tidak sadar kalau mereka itu orang NU karena saking include-nya NU dalam kehidupan keberagamaan mereka. Jadi kalau anda gak bisa  baca doa qunut jangan coba-coba jadi imam sholat shubuh kalo gak kepingin ditinggal pergi sama jamaah anda.

“Ketoke bareng, Yuk.(Sepertinya bareng, Mbak)” Jawab si bapak lagi.

“Yo syukurlah lek posone bareng, mugo-mugo riayane yo bareng.(Ya syukurlah kalau puasanya bareng, semoga lebarannya juga bisa bareng)” Lanjut si ibu menutup rangkaian pertanyaannya.

Kalimat terakhir dari si ibu menggambarkan betapa masyarakat Islam di Indonesia itu seperti pelanduk di tengah-tengah perkelahian dua gajah. Saya sangat yakin sebagian besar umat Islam di Indonesia sangat tidak tahu-menahu masuknya bulan Ramadhan dan Syawal kenapa sering terjadi perbedaan selain dikotomi NU-Muhammadiyah. Dan mereka yang tidak tahu-menahu itu pada akhirnya ya ngikut saja sama corong masjid terdekat di kampung mereka. Kalau di masjid kampung mereka sudah pada ramai anak-anak membaca syi’ir yang tidak lain adalah bacaan niat berpuasa sebelum sholat isya’ itu artinya besok sudah puasa. Atau kalo sudah terdengar takbiran berarti malam ini mereka harus mempersiapkan baju-baju baru untuk sholat Id besok pagi.

Yang menjadi masalah adalah bagaimana proses pendewasaan keberagamaan pendapat dalam Islam di Indonesia bisa berjalan dengan baik. Sebelum corong masjid kampung si ibu tadi menyuarakan syi’ir atau takbiran, entah melalui mekanisme tafsir yang seperti apa, analisa ijtihad, simbiosis kebudayaan atau bahkan proses politik seperti apa, perbedaan masuk bulan Ramadhan dan Syawal ini seharusnya bukan hanya menjadi milik elit agama dari kedu kubu yang selama ini “bertikai”.

Dulu waktu saya masih kecil dan masih suka tidur di masjid selama bulan puasa, ketika memasuki injury time menjelang Syawal adalah saat-saat paling mendebarkan. Mendebarkan pertama karena sebentar lagi lebaran yang artinya baju baru dan uang saku melimpah ruah. Mendebarkan kedua ya pas menunggu kapan mulai takbirannya, sudah dipastikan begitu menjelang maghrib atau jam 3 malam bahkan sebelum orang mau sahur hari terakhir.
Waktu itu kalau gak salah saya kelas 1 SMA dimana penentuan 1 syawal tahun itu diputuskan jam 2 malam, dan saya bersama anak-anak memang sengaja tidak tidur karena ingin memastikan bahwa lebaran adalah besok (berarti besok gak usah puasa hehehe) karena sejak tadi sore Masjid At-Taqwa sudah membunyikan takbiran. Sayup-sayup terdengar suara takbiran di masjid jami’ kota Batu, Masjid An-Nur. Begitu mendengar suara takbiran dari masjid “induk” spontan beberapa orang tua langsung memerintahkan kita untuk menyetel kaset takbiran. Masjid An-Nur adalah masjid NU sedangkan Masjid At-Taqwa adalah masjid Muhammadiyah.

“La iko Masjid Nur wes takbiran, berarti mene wes riaya. Wes ndang takbiran rek!(Nah itu Masjid Nur sudah takbiran, berarti besok sudah lebaran. Cepat segera takbiran!)” begitu kata mereka.

“Sik-sik Dhe, wes ono pengumuman resmi ta? (Tunggu dulu Pakde, apakah sudah ada pengumuman resmi?)” tiba-tiba beberap takmir yang lain menahan.

“Yo wes jelas ta rek, pokoke lek Masjid Nur takbiran berarti yo wes riaya! (Ya sudah jelas lah, pokoknya kalau Masjid Nur takbiran berarti besok sudah lebaran!)” begitu tafsir mereka.

Diam-diam teman saya yang bernama Tonyeh berbisik  sambil bertanya kepada saya, “Masjid Nur iku lak NU se? (Masjid Nur itu NU kan?)”

Spontan saya jawab, “Iyo ketoke. (Sepertinya begitu.)”

Lalu temen saya melanjutkan, “Yo wes, lek Masjid Nur iku NU berarti bener mene wes riaya! (Ya sudah, kalau Masjid Nur benar NU berarti betul besok lebaran!)”

“La kok iso? (Kok bisa?)” balas saya bertanya.

“La awakedewe lak yo NU ta, lek Masjid Nur takbiran berarti awakedewe yo kudu takbiran. Kown duduk NU ta? (Kita kan juga NU, kalau Masjid Nur takbiran berarti kita juga harus takbiran. Kamu bukan NU apa?)” jelas dia sambil membalas dengan pertanyaan yang demi Allah sampai sekarang saya masih belum tahu jawabannya.

Di luar bisik-bisik saya dengan temen saya Tonyeh tadi. Berlangsunglah perdebatan di antara golongan tua, para pengurus takmir masjid dan orang-orang tua yang bukan takmir. Yang satu pihak bersikukuh bahwa kalo Masjid Nur sudah takbiran maka kita sebagai masjid “cabang” otomatis juga harus takbiran, di pihak yang lain tetap ngeyel harus menunggu pengumuman resmi dulu dari PBNU Malang, minimal Batu.

Perdebatan itu panjang sampai membahas fatwanya Muhammadiyah segala sampai akhirnya datanglah Haji Ali, seorang sesepuh masyarakt dan tokoh agama di kampung saya. Beliau datang sambil langsung menyuruh anak-anak segera menyetel kaset takbiran,”Wes rek, setelen takbirane. Wes ono pengumuman resmi! (Ayo anak-anak, putar kaset takbirannya. Sudah ada pengumuman resmi!)” begitu kata beliau.

Tidak langsung beranjak menuju ruang sound system, saya berbisik dulu kepada teman saya Tonyeh tadi sambil bertanya,”Kaji Ali iku NU ta? (Haji Ali itu orang NU ya?)”

“La yo jelas ta, wonge yo NU ndekek iku! (Sudah pasti, dia itu NU tulen!)” jawab dia tegas.

Mendengar jawaban itu langsung saya berdiri ikut teman-teman lainnya nyetel kaset Takbiran.

***

Itulah Indonesia, betapa indahnya keberagamaan di Indonesia. Semoga keindahan itu bisa disempurnakan dengan pendewasaan kepada masyarakat awam tentang perbedaan-perbedaan antara berbagai macam mahzab yang berkembang, yang tentunya, terutama yang diwadahi oleh dua ormas terbesar NU dan Muhammadiyah.

Di Indonesia, Hari Raya bukan hanya pesta religius, bukan sekedar puncak ekstasi ruhiah tapi juga sudah menjadi pesta budaya. Mungkin tidak ada selain di Indonesia yang namanya Ramadhan diramaikan dengan ronda sahur, tadarus bersama di langgar atau surau-surau. Tidak ada selain di Indonesia yang namanya Idul Fitri dibarengi fenomena mudik, takbir keliling, kupatan, galak gampil (istilah desa saya untuk menyebut anak-anak kecil yang berburu uang saku ke tetangga-tetangga atau saudara) atau sekedar silaturrahhmi ke tetangga-tetangga kampung dan saudara.

Untuk itu, dari dalam lubuk hati saya yang paling dalam, sangat mendambakan para elit agama NU dan Muhammadiyah, ayolah duduk bersama. Lepaskan dulu baju sektoral Anda-anda yang terhormat lalu mencurahkan segala fikir dan hati untuk berijtihad bagaimana seharusnya, menurut Al-Qur’an dan Hadist, menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawal.

Kehidupan kapitalisme yang serba individualistik dan materialisme ini sudah tidak ada sedikitpun yang disisakan untuk sekedar menghibur hati rakyat kecil. Ramadhan dan Lebaran-lah yang bisa menyatukan kita semua dalam suka cita. Bergembira ria mendekatkan diri kepada Allah dan kepada sesama manusia. Dan itu semua tidak perlu dibeda-bedakan mana orang NU mana orang Muhammadiyah. Seluruh umat Islam se-Indonesia sangat rindu kebersamaan di hari yang suci dan penuh suka cita ini. NU-Muhammadiyah adalah organisasi bukan agama. Swiss kecil dan Tonyeh kecil juga tidak perlu lagi berdebat siapa yang NU siapa yang Muhammdiyah untuk mengambil keputusan kapan mau ber-lebaran.

***

Dan bersamaan dengan ini, dari pada saya harus menuh-menuhin inbox anda semua, saya ucapkan Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1431 H. Semoga Ramadhan kita tahun ini sukses dan layak mendapatkan titel fitri (suci seperti bayi yang baru dilahirkan) di hari lebaran nanti. Minta maaf jika ada khilaf saya kepada anda semua baik yang NU, Muhammadiyah, Hizbut Tahrir, atau siapa saja.

Buku SKJB Haram Direvisi!

Barusan mampir di blognya kawan-kawan pengamat burung, salah satunya punya Imam Si Peburung Amatir. Posting terbarunya dia menulis tentang terbitan terbaru buku panduan lapangan SKJB yang dikeluarkan Burung Indonesia. Dia menulis sebuah sub judul “Yang bahagia, yang pasti kecewa”.

Saya tidak punya buku itu, dan memang saya tidak pernah punya buku SKJB, tapi kata orang-orang yang sudah membeli dan membacanya ternyata tidak ada yang berubah dalam buku itu. Banyaknya catatan dan informasi baru seputar keberadaan burung di Sunda Besar yang diharapkan bisa terakomodir di cetakan 2010 ternyata sama sekali meleset. Memang sih ada buku errata terpisah yang memuat informasi paling update tapi itu bukan Buku Panduang Lapangan Sumatra,Kalimanta, Jawa dan Bali.

Sang Kitab Suci

Jadi benar juga kata Imam, yang bahagia, yang pasti kecewa. Ekspetasi yang berlebihan ketika tidak menemukan pencariannya hanya berujung pada kekecewaan. Tapi mari berpikir positif saja, kenapa tidak ada yang berubah dengan buku itu. Ada banyak kemungkinan. Pertama, yang boleh merubah isi buku itu hanya penulisnya, dalam hal ini McKinnon sebagai penulis utama dengan sepengatahuan dan ijin 2 penulis lain tentunya. Jadi bisa jadi dia sedang tidak berkenan merevisi lagi buku itu, entah karena gantung pena, sibuk, males buka-buka catatan-catatan baru tentang burung di Indonesia atau yang lainnya.

Kedua, jika ada penulis lain yang akan menulis ulang maka dia harus mendapat ijin dari penulis pertama, dan itu bukan hal mudah berkaitan dengan copyright, royalty atau gengsi. Maka si penulis baru ini mau gak mau harus menulis buku baru dengan judul baru. Tapi bukan hal mudah juga jika judul awalnya adalah menulis judul baru tapi kontennya hanya revisi. Bisa dituduh plagiat itu penulis karena banyak konten yang pasti sama persis. Belum lagi ilustrasi-ilustrasi segitu banyak tentu tidak mudah mendapatkannya. Membelinya juga tidak murah.

Ketiga, siapakah penulis(-penulis) itu? Siapakah yang bersedia meluangkan waktu dan tenaganya membuat sebuah buku panduan lapangan yang sangat dinanti-nanti oleh semua pengamat burung di Indonesia? Jika masalahnya adalah kapabilitas menulis buku yang menyangkup wilayah yang sangat luas di Jawa, Bali, Sumatra dan Kalimantan maka boleh jadi lokalitas-lokalitas lah yang harus mengambil peluang. Jika tidak ada buku SKJB yang update, maka bukan hal yang mustahil jika dimulai dari buku burung-burung Jogjakarta, buku burung-burung Semarang, Bali, taman nasional A, cagar alam B, perkebunan C, kota D atau kampus E.

Jadi, jika benar buku SKJB adalah kitab sucinya pengamat burung Indonesia maka sudah semestinya dia tidak berubah (revisi), karena yang namanya Kitab Suci pasti haram dirubah. Itu sudah dari lauful mahfud-nya sana. Jika membuat kitab suci tandingan sebegitu susahnya maka kenapa gak kita bikin saja edisi tafsirnya? Tafsir lokal menurut Ustadz Imam Taufiqurrahman, Kyai Adhy “Batak” Maruly, Gus Baskoro atau Habib Oni…

It is possible, isn’t?

Birdrace Baluran dalam Catatan…

Beberapa Peserta BBC (foto oleh Sitta PPBJ)

Akhirnya setelah melalui persiapan selama 6 bulan, perhelatan 1st Annual Birding-Britama Competition (BBC) pun dilaksanakan dan diselesaikan dengan segenap gegap gempita, ekspetasi, kenangan dan banyaknya catatan-catatan yang harus diperhatikan. Gegap gempita karena baru kali ini lomba pengamatan burung memperebutkan hadiah lebih dari 21 juta, dengan peserta yang katanya jauh menembus rekor event yang sama dari sebelumnya diadakan di Indonesia.

Ekspetasi karena sudah pasti semua peserta yang datang dari penjuru Indonesia tidak datang untuk tidak juara, minimal dapat doorprize lah. Kenangan… tadi kok bisa muncul kenangan dari mana to? Ohya, sapa tahu ada yang dapat teman baru, berlanjut ke demenan baru syukur karo diteruskan jadi pasangan baru sampai pernikahan amiin.
Dan yang pasti catatan-catatan yang harus diperhatikan, baik oleh panitia penyelenggara maupun peserta yang tidak lain adalah para pejuang konservasi ber-emblem birdwatcher.

Pengamatan burung adalah aksi konservasi paling nyata dalam menyelamatkan burung di alam. Semakin banyak orang yang ber-birdwatching bisa diartikan akan semakin banyak orang suka melihat burung bebas di alam. Maka aktifitas ini harus disebarluaskan. Salah satu strateginya –menurut saya- adalah dikompetisikan. Birding competition, birdrace atau apalah judulnya adalah mengkompetisikan hobi ini.

La kalo sudah dikomopetisikan sudah pasti dong ada yang berbeda dengan asal main ke hutan bawa binokuler, buku panduan lalu ngamati burung sambil rokokan atau rujakan. Data yang dibawa pulang adalah data apa adanya. Apa adanya silahkan diartikan tidak lengkap, tidak ilmiah, atau tidak sistematis. Tapi  bagi saya, arti apa adanya adalah tidak mengada-ada. Nah ini yang menjadi sangat berbeda ketika dikompetisikan.

Silahkan amati burung di Baluran, bagi yang memperoleh point tertinggi akan memenangkan hadiah total 21 Juta Rupiah!!! Point tertinggi bisa didapat dari: jumlah jenis banyak atau sketsa dan deskripsi paling bagus. Maka kalo saya adalah seorang bounty hunter maka saya akan melakukan dua hal. Pertama bikin aja semua list burung di lokasi lomba yang paling mungkin ada. Kedua, saya akan menghapal semua gambar burung yang sudah saya buat list itu tadi berserta deskripsinya, jika ingatan saya agak jongkok saya akan buat kerpekan baik gambarnya maupun deskripsinya. Gak masalah demi 21 Juta Rupiah!!!

Saya tidak merendahkan kejujuran atau kapabilitas para juara, maaf jika ada yang beranggapan begitu. Saya cuma ingin menyitir apa yang oleh teman saya disebut sebagai “terjadi pergeseran orientasi”! Pun itu wajar namanya juga kompetisi. Nah yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana pergeseran orientasi dari sekedar pengamatan burung biasa menjadi pengamatan yang dikompetisikan tetap tidak berubah watak dasarnya: apa adanya!

Watak apa adanya ini akan sangat terlihat jelas ketika diumumkan siapa juaranya. Yang menang gak kaget, pun yang kalah gak susah. Karena tidak semua peserta melakukan pengamatan di lokasi yang sama pada waktu yang sama pula. Selalu ada saat-saat dimana mereka melakukannya sendiri atau bertemu dengan peserta lain lalu berpisah lagi. Teori peluang saja. Yang hebat belum tentu ketemu dengan burung banyak dan sebaliknya.

Jadi bagi panitia penyelenggara BBC maupun siapa saja yang akan menyelenggarakan kompetisi semacam ini, adalah tanggung jawab anda bagaimana kualitas pengamat burung yang keluar juara nantinya benar-benar teruji. Pun kualitas moral peserta secara umum tetap berada di koridor apa adanya tadi itu.

Dan buat juara BBC, Tim Volunteer Bali Barat, Al Soneta dan Lantjoeran Biologi Unes di kelas Beginner lalu Mas Heru Cahyono, Pak Wahyudi, dan Mas Dimas H. Pradana di kelas Expert, tropy bukti kualitas anda adalah amanah dari seluruh penghuni hutan bahwa anda adalah juaranya pejuang konservasi. Bahwa anda adalah ujung tombak penyelamatan burung-burung yang bebas di alam. Jangan sia-siakan amanah itu karena anda-anda semua akan lebih baik di masa datang.

CAYO!!!