Sebelum Manyar Berumah Tangga

Di setiap bulan Februari sampai Juni/Juli, Baluran selalu dikunjungi rombongan tamu istimewa. Sekelompok Manyar Emas yang tidak tahu dari mana datangnya, karena di luar bulan-bulan itu mereka seperti menghilang yang tidak tahu juga kemana perginya. Manyar-manyar ini berkunjungnya pun selalu di tempat yang sama tiap tahunnya: rawa yang ditumbuhi rumput Tifa. Di blok Gatel tepatnya. Dan yang pasti lokasi rawa itu berdekatan dengan areal persawahan yang padinya sudah gede-gede.

Yup, betul sayangku, kelompok manyar itu mendatangi Gatel untuk menemukan lokasi yang ideal untuk bersarang. Rumput-rumput tifa yang tinggi dengan daun tebal dan kokoh akan menjadi pondasi kuat bagi manyar untuk membangun sarangnya. Lalu, padi-padi yang tumbuh subur itu akan menjadi sumber pakan berlimpah untuk anak-anak manyar saat musim panen tiba. Mereka adalah makhluk cerdas yang bisa menghitung kapan memulai membangun sarang, kawin, mengeram sampai mengasuh anaknya yang berbarengan dengan musim panen padi tiba.

Continue reading “Sebelum Manyar Berumah Tangga”

Advertisements

Ketika Mulutmu Tidak Mampu Mewakili Isi Hatimu

Barusan ada yang posting pesan di wall facebooku. Katanya dia suka dengan film The Next Three Days, setelah dia baca resensi di blog ini. YES! Ada juga orang yang percaya kalo aku bukan resensor amatiran. Jadi pingin nulis resensi lagi ne hehehe…

Ok, karena akhir-akhir ini film yang aku tonton gak buat aku tertarik untuk menulis resensinya, kecuali Inception yang saking kerennya sampe aku bingung mau nulis gimana.So, ngeresensi film agak lama aja deh.

Sebenarnya aku sudah lama pingin nulis resensi film kesukaanku ini. Bahkan bisa dibilang film paling keren yang pernah aku tonton: My Sassy Girl. Yes, Korean movie. Bukan film baru karena dia release tahun 2001. Sampai paragraf ini, kalo sampeyan percaya sama pilihanku, gak usah dilanjutkan bacanya. Segera cari pinjeman filmnya di temen, donwnload atau rental. Kalo sampe jelek, silahkan dikembalikan lagi kepada yang punya. Boleh percaya boleh tidak, saya sudah menontonnya 4 kali! Continue reading “Ketika Mulutmu Tidak Mampu Mewakili Isi Hatimu”

FOBI for 10.000

Tiba-tiba dapat sms dari Imam, “wah, kunjungan ke fobi menembus 10rb.. selamat2!”

Wow! Langsung saya crosscheck sms salah satu editor buku saya itu. Dan benar, malah saya telat menyaksikan angka bulat 10.000 karena sudah kelebihan 35! 10.000 kunjungan bo’. Bukan angka kecil untuk situs baru yang belum genap berumur setahun setengah sejak dia mengudara di dunia maya. Dan ini “kunjungan” lo brur, bukan “views” atau “hits”.

Setelah ngecek fobi, langsung saya ngecek blog-nya Imam. Ternyata dia belum nulis tentang berita bagus ini. Daripada keduluan dia, segera saya bikin coret-coretannya di blog ini. Saya harus jadi yang pertama yang menulis kebar baik ini.

Continue reading “FOBI for 10.000”

Gempa Bumi dan Membaca Tanda

Saya gak tahu, 8.9 skala ritcher yang menggoyang Jepang 11 Maret silam apakah angka terbesar dalam sejarah gempa di planet ini. Tapi yang jelas angka sebesar itu telah, benar-benar, menghancur leburkan pesisir Jepang, korban nyawa sudah pasti, kerugian material apalagi. Tinggal dihitung saja, ada berapa ribu pabrik yang terpaksa tutup. Saham plorotan gak terkira. Belum lagi meledaknya reaktor nuklir yang menyebabkan radiasi berkilo-kilo meter. Tapi kabarnya Miyabi selamat!

Orang-orang pun mulai berspekulasi. Ada apa gerangan dengan gempa super dasyat ini? Pertanda murka Tuhan kepada bangsa yang masuk blacklist? Peringatan dini bahwa isu 2012 adalah benar karena kabarnya perubahan poros bumi akibat gempa ini menyebabkan berubahnya mekanisme rotasi bumi, tentunya ini akan mempengaruhi berbagai proses alam? Atau memang begitulah bumi, pertemuan lempeng-lempeng benua yang berpusat di bawah kepulauan Jepang adalah aktifitas wajar saja. Meskipun akhirnya ilmuwan cuma gedek-gedek karena tidak mengira kalo goncangannya bisa begitu dasyat, bahkan getaran gempa ini bisa dirasakan sampai 3-5 menit!

Continue reading “Gempa Bumi dan Membaca Tanda”

Your Family, Any Else be Worth?

Kesan pertama setelah saya tutup movie player sesaat menyelesaikan film ini adalah: sudah lama nggak nonton film cerdas seperti ini!

Kisah perjuangan seorang kepala rumah tangga demi menyelamatkan keluarganya. Sama sekali tidak menyajikan adegan heroik ala James Bond atau Jason Bourne dengan segala skill spionase yang mengagumkan. Dan, memang di sinilah sisi menarik film yang dibintangi Russel Crowe (John Brennan) ini: menjadi orang luar biasa demi keluarga yang dicintai.

Lara Brennan yang diperankan oleh Elizabeth Banks adalah wanita dengan harga diri tinggi dan watak yang keras, tiba-tiba digrebek oleh banyak polisi atas tuduhan pembunuhan bos wanitanya. Tidak ada yang bisa menyelamatkannya karena semua barang bukti mengarah kepadanya, termasuk sidik jari pada forest fire extinguisher yang digunakan untuk menghabisi korbannya dan darah di mantelnya. Alibi dari insting detektif dari alat bukti dan olah TKP pun tidak terbantahkan untuk mengurungnya dalam penjara.

Tidak terima dengan kasus ini, sang suami mulai mencari-cari cara untuk mengeluarkan mengeluarkan istrinya dari penjara. Dia adalah seorang dosen ilmu sosial. Dimulai dari belajar escaping dari penjara. Jangankan keluar dari penjara, membuka satu kunci pintu penjara saja dia patahkan kunci bandrek buatannya sendiri. Opsi pertama coret.

Tapi  dasar dosen, sudah pasti IQnya tinggi dan IPK jaman dia kuliah juga bagus. Dia mengamati bahwa semua aktifitas penjara adalah konstan: kunci utama. Dari sinilah kenekatannya menculik istrinya dari penjara dimulai. Di sela-sela kesibukannya mengajar dan mengasuh anak tunggalnya, dia terus mengamati dan merancang adegan pelarian.

Continue reading “Your Family, Any Else be Worth?”

Again, Baluran’s New Checklist

Saya tidak pernah menyangka kalau hari ini tadi adalah oase di tengah rasa haus yang berkepanjangan untuk bertemu dengan predator malam di Baluran. Selain Serak Jawa tentunya. Bagaimanapun juga, para predator malam adalah makhluk-makhluk ghaib se-ghaib gelapnya malam.

Ditemani istri “baru” saya, sepertinya dia membawa hoki tersendiri hehehe… Semoga saja bukan, meminjam istilahnya Paulo Coelho, “keberuntungan pemula”! Dua nama baru dalam daftar foto dan perjumpaan saya sepanjang sejarah karir pengamat burung saya didapatkan hari itu.

Baluran yang dirundung hujan sejak tahun kemarin membuat beberapa adegan perburuan menemui kesulitan, pertama sulit ke lapangan yang memang hujan terus, kedua sulit ketemu burung yang lebih memilih kemulan di rumahnya, dan ketiga sulit mengambir gambar bagus karena tidak ada cahaya optimal. Maka, perburuan kali ini semata-mata karena ingin menghibur istri “baru” yang ingin menjelajahi Baluran bersama suami tercintanya. Dan, meluncurlah kami dari Batangan menuju Bama.

Continue reading “Again, Baluran’s New Checklist”

Resort Base Management

Hampir dua minggu saya gak ngantor. Menjelajahi lagi Baluran, atau sekedar nyanggong si Jalak. Sebenarnya tidak semua kerjaan saya melulu di lapangan, banyak juga yang harus dikerjakan dan diselesaikan di atas keyboard leptop. Artinya, tanpa harus di berada di Baluran pun saya masih bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan itu. Tapi menikah memang sama sekali berbeda. Mencengangkan, mengagetkan, mangharukan dan menguras banyak energi. Dan kemarin, kaki saya mendarat lagi di Baluran tepat waktu shubuh.

Istirahat sebentar sebelum memulai lagi kebiasaan bujang saya: check email, update blog, BBB inggris, rekap data, mbantu menyelesaikan bukunya mas Hary, ebook fobi. Lalu email dari Pak Bro Nurman yang dari Direktorat Konservasi Kawasan itu yang menyuruh saya meluncur ke kantornya Purwo. “Kita ingin sharing pengalaman dan masukan dari kawan-kawan Baluran tentang pelaksanaan Pengelolaan Taman Nasional Berbasis Resort.” kurang lebihnya begitulah isi email itu.

Continue reading “Resort Base Management”