Rock Climbing: Kematian Adalah Logis

Film ini mengingatkan saya pada film keluaran 11 tahun yang lalu, Vertical Limit. Film-film tentang drama penaklukan puncak-puncak dunia bagi saya selalu menyuguhkan aksi yang menguras energi, emosi dan perbendaharaan istilah pisuhan. Apalagi jika drama penaklukan puncak-puncak dunia itu harus dilalui dengan menaklukkan tebing 90 derajat ratusan sampai ribuan meter tingginya. Ah, salah satu kegilaan yang harus aku hapus dari wish list-ku.

Yang membedakan film ini dengan pendahulunya itu adalah, North Face bukan buatan Hollywood. Artist-nya sama sekali gak aku kenal. Pake bahasa Jerman pula. Dan dia diambil berdasarkan kisah nyata. Itulah sebabnya kenapa dramatisasi film ini tidak se-lebay Vertical Limit. Continue reading “Rock Climbing: Kematian Adalah Logis”

Advertisements

Kupu-kupu Baluran, Keindahan yang Terlewatkan [photo essay]

Zizina otis. Canon 50D + Tamron 90mm macro. 1/320. f/7.1. ISO 400.

Saya tidak mau membandingkan Baluran dengan Bantimurung. Saya ndak berani. Takut kuwalat. Tapi kalo saya boleh bertanya kepada sodara-sodara semua, adakah tempat indah minimal di Jawa dengan kupu-kupu bertaburan dimana-mana selain di Baluran? Jika sampeyan datang ke Baluran, pada musim yang pas, sampeyan akan dihibur oleh ratusan bahkan ribuan kupu-kupu yang betebaran mulai dari gerbang utama sampai Bama. Gak percaya? Kayaknya gak mungkin ya tempat sekering Baluran bisa dipenuhi dengan begitu banyak kupu-kupu? Jenisnya juga gak tanggung-tanggung, sejauh ini yang sudah teridentifikasi sudah 73 jenis. Itu data baru diambil di sepanjang jalan Batangan-Bekol dan sekitar kawah gunung Baluran (Kacip). Continue reading “Kupu-kupu Baluran, Keindahan yang Terlewatkan [photo essay]”

Mari berbagi dengan sesama, Anda puas, rakyat cerdas!

Apa yang menarik dari majalah digital ini? Bagi saya, terlepas saya adalah salah satu tim di dalamnya, adalah majalah ini lahir murni bermodalkan semangat dari sebuah komunitas kecil orang-orang yang suka ngluyur, motret dengan alat seadanya, lalu menulis cerita mereka dengan bahasa yang populis tapi tidak keluar dari batas ilmiah. Tidak ada lembaga donor yang mendanainya, tidak ada orang terkenal apalagi kuat yang mendukungnya, bahkan publikasinya “hanya” bermodal tutur tinular, dari “mulut ke mulut”. Nyaris sama persis dengan bendera besar yang berada di belakangnya: FOBI. Continue reading “Mari berbagi dengan sesama, Anda puas, rakyat cerdas!”

Canon 50D + Tamron SP AF 90mm f/2.8 Di Macro Final Test

Ok, jadi inilah akhirnya. Day 4 mencoba senjata baru dengan misil baru juga: Canon 50D + Tamron SP AF 90mm f/2.8 Di Macro.

Sempat kebingungan pegang senjata baru karena banyak panel, menu dan fungsi yang sama sekali berbeda dengan D200. Bahkan saya sempat mengutukinya karena makhluk ini lumayan tidak ergonomis (mungkin ini karena saya sudah terbiasa pake D200 kali ya?). Dibandingkan dengan D200, 50D ini akan membuat jempol sama telunjuk sampeyan menari-nari saat mengoperasikan fungsi panel di body. Meskipun beberapa shortcut jauh lebih baik dari, bahkan tidak ada di D200. Itu yang pertama. Skor 50:50. Continue reading “Canon 50D + Tamron SP AF 90mm f/2.8 Di Macro Final Test”

Aku Tidak Pindah Agama kok, Sayang

New Gear and Lovely Old Stuff

100% foto-foto yang ada di blog ini diambil pake DSLR Nikon D200. Dan memang sejak konon dahulu kala pegangan saya adalah Nikon. Mulai dari kamera pinjeman FM 10 punya teman, lalu kuat beli sendiri FM 4. FM 4 waktu itu aku beli kedua (baca: second) seharga 250 ribu tahun 2001. Saya jual lagi 100 ribu buat tambahan beli motor pitung yang aku namai Marni. Marni: Merah itu berani!

2005 saya kerja di Kutilang, di sana karena bosnya Ige, si Nikonian, tersedialah di kantor Coolpix N 4500. Berlanjutlah sejarah nikon dalam hidupku. Bersama sebuah monokuler jadilah mereka digiscoping equipment. Sejak itu, dimulailah sejarah saya jadi keranjingan motret burung. Pokoknya kemana-mana bawaannya tripod, monokuler dan N 4500. Semuanya pinjeman! Continue reading “Aku Tidak Pindah Agama kok, Sayang”

Palestina Membara Dalam Komik Cerdas

Palestina Membara

Cerdas! Adalah ungkapan yang langsung menyembur dari kepalaku setelah selesai membaca komik ini. Berjudul Palestina Membara, Duka Orang-orang Terusir, komik karya Joe Sacco ini benar-benar membawaku merasakan apa yang sebenarnya terjadi di tanah suci tiga agama itu. Palestina!

Cerdas, karena muatan jurnalisme di dalamnya benar-benar terwakilkan justru melalui sebuah komik yang selama ini selalu menjadi media cerita fiksi. Joe Sacco benar-benar paham bagaimana membuat karakter pemuda Palestina yang tegar, orang tua yang kehilangan keluarganya, atau tentara Zionis yang sadis, dingin atau bahkan ketika mereka ketakutan menghadapi sebuah lemparan batu para pejuang intifadah.

Cerdas, karena bisa dibayangkan berapa tokoh dalam komik yang akan digrebek tentara Zionis karena memberikan informasi yang dalam tentang pendudukan Israel kepada seorang jurnalis kalo seandainya Sacco memasang foto-foto mereka dalam karyanya. Karakterisasi tokoh melalui gambar justru membuat muatan informasi yang ditangkap oleh Sacco lebih tereksplorasi di balik catatan-catatan jurnalismenya.

Ini bukan subyektifitas saya yang memang sangat prihatin dengan kondisi di sana. Tapi percayalah kalo saya bilang fully recommended comic. Penghargaan American Book Award mungkin lebih mewakili kualitas buku ini. Continue reading “Palestina Membara Dalam Komik Cerdas”

Harapan di Dataran Raya Baluran

 

Itulah halaman dimana pertama kali foto-foto saya nampang di majalah keren macam NG. Meskipun cuma sisipan NGI tapi lumayan juga bisa nongkrong di sana hehe…

Adalah si Ayos, bocah traveller yang sangat rajin menulis yang menghubungi saya dan menawarkan kerjasama untuk bikin tulisan di NGI edisi Mei 2011 tentang Baluran. Kebetulan dia juga dapat assigment dari sana. Saya sih oke-oke aja karena toh ini juga “rumah” saya sendiri. Menjelajahi rumah sendiri lalu memamerkan kepada dunia luar, ini lo rumah indahku, siapa yang gak kepingin? Continue reading “Harapan di Dataran Raya Baluran”