Karena Musik Tidak Untuk Di-Fanatik-i

Saya, dari dulu paling gak suka sama grup musik yang menonjolkan keislamannya. Meskipun saya bisa menangis tersedu-sedu saat mengumandangkan sholawat nabi, atau fly saat mendengar alunan musik-musik yang dibawakan Kyai Kanjeng. Tapi tetap saya dari dulu gak pernah tertarik mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan oleh group nasyid atau vokalis yang menonjolkan keislamannya. Aneh, hipokrit? Ya, tapi itulah yang terjadi.

Mungkin hanya Soneta dan Bimbo, dua grup lawas yang bisa menghiburku. Apalagi kalo sudah mendengarkan lagunya Ungu yang sok religius itu, bukannya damai hati bisa-bisa langsung kesurupan saya. Mungkin sampeyan ingat beberapa tahun terakhir ini banyak group pop yang jualan lagu islami tentunya dengan gaya musik dan lirik apa yang mereka tahu tentang Islam. Continue reading “Karena Musik Tidak Untuk Di-Fanatik-i”

Advertisements

Refreshing dengan Bekerja ala PEH Baluran

Akhirnya, setelah pusing dengan semua yang ada di kantor, ekspedisi Labuhan Merak adalah opsi paling logis untuk melarikan diri dari kepusing-pusingan itu. Salah satu agenda bulanan PEH bulan ini. Tapi bukan berarti kita njuk nyante-nyante lo ya. Karena emang sudah menjadi kebiasaan kawan-kawan PEH, kita selalu bekerja dengan riang gembira. Dan Labuhan Merah adalah resort paling jauh dan paling “primitif”. Tidak ada listrik, sinyal, jalan berbatu yang berkelok dan jauh, dan air menimba sendiri. Jadi kenapa ini menjadi opsi paling logis? Karena kita benar-benar terisolir.

Continue reading “Refreshing dengan Bekerja ala PEH Baluran”

Anak Kecil juga Manusia

Saya adalah penggila film action. Mulai dari action kungfu, tembak-tembakan, adventure, sampai robot-robotan macam Transformer. Pada tingkat kegilaan di bawahnya adalah film drama romantis hehehe… Tapi film Boy yang barusan aku tonton barusan adalah film drama yang bisa nyundul mengalahkan film action dalam daftar the most liked movies saya. Meskipun tetap juara abadi adalah My Sassy Girl. Continue reading “Anak Kecil juga Manusia”

Morning Morning Beauty in the Wild Wild East [photo essay]

Sudah lama banget saya ingin mosting ini, foto-foto dan sedikit tulisan tentang bagaimana cahaya pagi hari menguasai wilayah imajinasi saya. Atau kadang-kadang nggak cuma menguasai saja, bahkan menyulap. Menyulap kepala yang berat, mata capek dan jiwa yang penuh sesak sehabis lemburan tadi malam.

Dan jemari cahayanya mulai meng-gerayahi langit dan ombak-ombak kecil Pantai Bama.

Bama Sunrise yang Terkenal Itu. Nikon D200. f/9, 1/15, ISO 500.

Lalu dia menyapa para penghuni hutan. Merak Hijau mengembangkan ekor glamornya untuk menyambut cahayanya yang redup tapi centil. Hampir semua satwa, cahaya pagi selain berarti semalam tidak ada yang memburu mereka juga berarti bahwa kehidupan hari ini harus ditunaikan. Dimulai dengan menjereng bulu-bulu di tubuhnya yang lembab oleh embun malam. Menjaga bulu tetap kering, berarti menjaga keindahan dan keawetan mahkota mereka.

Ritual Alam Menyambut Pagi. Nikon D200. f/6.3, 1/4000, ISO 560.

Kita sering melupakan makhluk kecil macam belalang ini. Tapi siapa yang tahu, di balik ke-sepele-annya, dia adalah makhluk kecil yang sangat cantik yang bisa menghibur sampeyan. Tubuhnya yang kecil itu membuat seakan-akan dia tembus cahaya. Cahaya pagi yang keemasan itupun gak pake di-filter nyangkut begitu saja ke sensor kamera, menangkap warna tubuhnya yang meng-emas pula.

"Selamat Pagi", kata belalang. Canon 50D. f/10, 1/125, ISO 800.

Dan rerumputan Baluran, how do I can tell you about her?

Ada yang bilang, “Photography is painting with light.” Di alam tidak sesuatu yang jelek atau bagus, semua hanya masalah bagaimana sampeyan menyeting shutter speed dan bukaan diafragma lalu memilih angle terbaik supaya semua unsur di alam bisa dimanfaatkan – salah satunya cahaya.

Find the way to see the hidden. Canon 50D. f/4, 1/ 320, ISO 640.

Embun adalah nafas pagi. Dimanapun udara bertebaran, dia terperangkap di dalamnya. Sayap kupu-kupu yang tersusun dari jutaan sisik adalah perangkap terbaik. Itu sebabnya kenapa kupu-kupu banyak ditemukan di tempat terbuka daripada di bawah tajuk hutan yang rapat. Dia membutuhkan matahari untuk menjaga sayapnya yang mudah basah itu tetap kering. Sayap kering berarti akan menjaga sayap dari jamur dan warna yang menyala.

Lycaenid ini akan terus berdiam diri, tidak beranjak terbang, sampai semua tubuhnya terjemur sinar matahari. Sampai embun di sayapnya menguap dan mengering.

Masih Menunggu Cahaya Pagi. Canon 50D. f/9, 1/50, ISO 800.
Canon 50D. f/4, 1/25, ISO 800.
Canon 50D. f/9, 1/25, ISO 800.
Canon 50D. f/9, 1/200, ISO 800

Meskipun matahari belum naik sepenuhnya. Ketika masih ada yang bermasalah dengan kecantikan dan perawatan tubuh. Beberapa warga sudah harus mencari nafkah. Untuk membeli beras dan sebongkah berlian (Wali Band, 2011)

Laba-laba Aku Gak Tahu Namanya tidak perlu menunggu terik untuk berburu makanannya. Canon 50D. f/7.1, 1/40, ISO 800

Ok. Jadi begitulah sodara-sodara sekalian. Baluran tidak melulu savana dan banteng. Ada dunia kecil di bawah sana yang tidak kalah menantang dan misterius menunggu ide kreatif dalam kepala sampeyan. Saya tidak bilang foto-foto saya di atas punya nilai kreatifitas tinggi. Saya cuma belajar tidak silau sama sesuatu yang wah, belajar menghargai sesuatu yang sepele. Berburu foto tidak harus pergi ke tempat-tempat menarik dan indah, apalagi sampai harus menghabiskan banyak duit. Sekali lagi, mainkan saja otak sampeyan lalu implementasikan apa yang ada dalam kepala sampeyan melalui shutter speed, aperture, dan angle. Kalo boleh agak lebay, motto kita di Baluran adalah Watch and Smile.