210 Pasang Mata di BBC 2011

210 kepala manusia numplek bleg di Bekol. Datang dari penjuru Jawa dan Bali. Mengusung semangat, skill, pengalaman dan insting gambling untuk membawa pulang hadiah yang bisa dibilang terbesar dalam sejarah lomba pengamatan burung di Indonesia. Panitia hilir mudik, sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut mereka. Untung saja persiapan sudah dilakukan sejak jauh hari sehingga kerepotan hari itu sudah terbayar separuh.

5 hari 4 malam saya kira adalah waktu yang sangat panjang untuk ngurusi 210 orang, ditambah ngatur tim panitia. Untungnya, karena sudah pengalaman menggelar event yang sama tahun kemaren, banyak seksi-seksi di kepanitiaan yang bisa menyelesaikan tugas dan tanggung jawab mereka dengan sangat baik. Saya sendiri lebih banyak nyantai, say hello kepada temen-temen peserta, ngobrol sampe larut malam, atau bahkan ikut-ikutan hunting foto.

Continue reading “210 Pasang Mata di BBC 2011”

Advertisements

Ada Dunia di Bawah Sana, Ada Keindahan di Bawah Sana [photo essay]

Masih dalam episode motret barang-barang sepele. Saya benar-benar tidak menyangka kalo alam memang sudah sedemikian rupa didesain sama Allah. Fotografi adalah melukis dengan cahaya, tidak ada yang jelek pun bagus di alam [yah, lagi-lagi aku kutip kalimat itu]. Ini serius! Allah sudah merakit apa-apa yang kita butuhkan untuk membuat sebuah foto dari yang sederhana sampai super nggilani. Nggak usah muluk-muluk bikin foto kayak punya National Geographic (NG). Bagi saya NG itu adalah makhluk ghaib. So, kalo ingin memasukkan foto-foto saya di NG maka saya harus jadi dukun dulu, atau minimal ndukun.

Ok, kembali ke barang sepele tadi. Karena alam sudah diinstal sedemikian rupa sesuai dengan perhitungan matematis yang sangat acak dan rumit bukan berarti tidak bisa ditemukan atau dipelajari polanya. Kalo alam itu acak, maka sampeyan harus acak-acakan. Sekali lagi, tinggal bagaimana sampeyan memainkan apperture, shutter speed, dan angle. Mungkin white balance (BW) juga perlu dimainkan. Distance juga. Mungkin juga ISO… wes kabeh ae wes!

Foto-foto yang saya ambil ini semuanya memanfaatkan back light. Banyak orang yang takut dengan back light karena takut over, warna pudar atau background terlalu keras, dll. Tapi jika kita bisa memainkan timing, posisi dan angle, back light bisa bikin sampeyan ketagihan. Side light atau front light bagus tapi kurang eksploratif. Kalo saya bilang, foto sampeyan akan terlalu flat, seperti foto-foto awal saya bermain-main dengan macro. But it’s ok, because every photographer has taste each each. Dan semoga selera saya berkenan di mata para pemirsa. Masih dari kedalaman hati dan kesunyian hutan Baluran.

Monggo kulo aturi…

<a href=”http://pratapapa81.wordpress.com/2011/05/27/kupu-kupu-baluran-keindahan-yang-terlewatkan-photo-essay/macro-10_resize/&#8221; rel=”attachment wp-att-3543″><img class=”size-full wp-image-3543″ title=”macro-10_resize” src=”http://pratapapa81.files.wordpress.com/2011/05/macro-10_resize.jpg&#8221; alt=”” width=”655″ height=”386″ /></a>
Zizina otis. Canon 50D + Tamron 90mm macro. 1/320. f/7.1. ISO 400.