Ketika Alam Liar Memanggil

Sekarang jam 01:28 pagi, tapi saya harus menulis resensi film ini. Sebagai seorang forester, film ini sangat menginspirasi! Kisah tentang sekelompok volunteer yang prihatin terhadap perburuan liar Tibetan Antelop (Pantholops hodgsonii)-EN. Mereka bukan PNS bergaji tetap seperti saya, atau staff NGO internasional bergaji dollar. Mereka hanya orang-orang yang peduli dan bertindak nyata tanpa bantuan siapa-siapa.

Berdasarkan dari kisah nyata pada tahun 1993-1996. Adalah Ri Tai yang diperankan oleh Duobuji, seorang mantan tentara Tibet yang membentuk pasukan keamanan yang terdiri dari beberapa masyarakat sipil Kekexili yang bertekad memerangi para pemburu gelap Tibetan Antelop. Kekexili adalah sebuah daerah di pegunungan HImalaya yang masuk wilayah di Tibet berada pada ketinggian 4.700 m dpl, tempat dimana satwa terancam punah itu hidup. Dan Ga Yu, seorang wartawan yang diperankan Zhang Lei, yang datang ke komunitas mereka untuk meliput kehidupan komunitas ini yang sebelumnya tidak ada orang yang tahu. Dari sinilah cerita ini dimulai. Continue reading “Ketika Alam Liar Memanggil”

Advertisements

Motret Manuk Neh… Ki Mung Tumben Po Ben Ra Dihujat Bareng2?

Saya sampai lupa, kapan terakhir saya motret burung. Apalagi setelah setelah punya istri baru dengan lensa macronya. Lebih apalagi lagi setelah laras panjang andalan sedang opname di rumah sakit dan sampai sekarang belum ada kabar jadi mati atau cacat seumur hidup. Mungkin karena efek ngerjain buku burung edisi Inggris kali ya? Rasanya kok sampai muneg-muneg kalo lihat burung.

Catatan penting 2010, Ceyx rufidorsa oleh Imam Taufiqurrahman

Berawal dari BBC 2011 kemaren saat saya ditunjukin foto Ceyx rufidorsa oleh peserta dari Kepulauan Ceko, si Petr. Saya langsung kaget, terperangah, terengah-engah, gemeteran dan hanya keluar dua kata F… M.! Disusul fotonya Imam dengan korban yang sama, keluar lagi dua kata M….. A..! Saya sama sekali tidak mengira kalo ada Ceyx di Baluran. Karena berdasarkan pengalaman ketemu Ceyx di Bali Barat, dia itu sukanya sama hutan yang rapat, lalu dia nangkring di ranting yang rendah atau akar pohon yang dekat dengan air. Nah itukan bukan Baluran banget, meskipun ada juga sih spot-spot kayak gitu. Proficiat! Continue reading “Motret Manuk Neh… Ki Mung Tumben Po Ben Ra Dihujat Bareng2?”

Kacip, Talpat dan Kupu-kupu Sangat Langka

Road to Kacip, Talpat path

Kacip, sebuah lokasi di dasar kawah gunung Baluran, hal apakah yang paling menyenangkan? Tidak lain adalah menikmati sebatang GG dan segelas kopi panas di pagi hari sambil menikmati Pelatuk Sayap-Merah, Cica Daun Sayap-Biru, Julang Emas, Jinjing Petulak atau Munguk Beledu hilir mudik di sekitar tenda. Dan hal apakah yang paling menyakitkan? Apa lagi kalo bukan karena tidak ada laras panjang di tangan karena masih opname di rumah sakit. Jadinya cuma senyum-senyum getir sambil sesekali mengucap dalam hati, “Alhamdulilah… ikhlas… ikhlas…”

Dan apakah yang pualing menyakitkan, teramat sangat menyakitkan dari itu semua? Yaitu di saat emosi sudah bisa dikendalikan karena gak bawa laras panjang, muncullah satu lagi makhluk aneh, di sekitar tenda kami. Seekor Sempur! Lagi-lagi burung yang selama ini aku kira sangat tidak mungkin ada di Baluran. Dan, lagi-lagi, supaya saya tidak kesurupan, terlontarlah dari mulut, “Ya Allah… Ya Allah… Astaghfirullah… Ya Allah…” Gelisah gundah gundala saya sampai akhirnya dia benar-benar menghilang, padahal Sutadi baru saja ambil ancang-ancang mau digiscoping pake bino Bushnell yang bisa bikin mata sampeyan langsung kena katarak. Kali ini saya tidak mampu mengeluarkan jurus semua nama binatang karena saya benar-benar pasrah.

Cukup sampai di situ! Jangan dibahas lagi!

***

I, FOBI and Talpat Hill

Jadi kenapa saya dan tiga teman saya bisa sampai di Kacip, lagi? Lebih karena ini adalah bulan Juli. Kacip yang melewati bukit Talpat memasuki fase terbaik pada bulan ini. Terutama bukit Talpat. Pada bulan inilah rumput di savana Talpat sudah menguning tapi belum terbakar. Sungguh, demi kesucian Bulan Ramadhan, tidak ada pemandangan yang lebih indah selain di bukit Talpat di seluruh kolong Baluran. Nyanyian yang didendangkan angin tidak kuasa rerumputan menahan untuk tidak meliuk-liukan tubuhnya. Menciptakan sebuah tarian alam dan suara gemerisik yang lembut menusuk kalbu. Sebatang pohon berdiri tegar di antara rerumputan menatap gunung Baluran yang angkuh menantang kami. Ah, benar-benar seperti dalam pilem korea!

Alasan kedua, karena tahu kemaren kita sama sekali gak nyambangi lokasi ini. Hujan turun sepanjang tahun. Padahal minimal sekali setahun, Kacip harus kita kunjungi untuk menjaga tradisi sejak jaman dahulu kala. Alasan ketiganya adalah Rohana nakula!

Sejak membaca artikelnya Imam si Peburung Amatir tentang nasib kupu-kupu endemik Jawa-Bali di FOBI saya baru tersadar bahwa Baluran tidak hanya savana, Banteng, Merak atau Bama. Masih ada dunia lain yang selama ini luput dari perhatian kami sebagai pengelola Baluran. Dunia di bawah sana yang juga punya hak untuk mendapat perhatian yang setara. Dan Rohana nakula adalah patok ancer-ancer saya di tengah hutan rimba yang menyesatkan itu. Spesies endemik Jawa-Bali yang dikategorikan sangat langka itu adalah alasan logis saya turun ke dunia di balik nama-nama besar ikon Baluran.

Saya tidak tahu sama sekali tentang kupu-kupu. Makanya saya oportunis saja, setiap ketemu kupu saya foto. Yang paling nancap di kepala saya cuma foto si Rohana punya Pak Bas yang merajai folder spesies itu di halaman FOBI. Sendirian, tidak ada lagi lainnya, foto itupun beliau dapat di Baluran. Jadi itulah ancer-ancer saya. Setiap kali ketemu kupu dengan pola mirip-mirip si Rohana akan saya kejar sedapatnya. Dan setelah berbulan-bulan khusus berburu kupu-kupu, blusukan hampir di semua spot dimana kupu-kupu melimpah, sampai list foto sudah mencapai angka 137 spesies, gadis cantik anak bakul soto itu belum juga saya dapatkan. Gak tahu, dimana dulu Pak Bas dapat fotonya?

Maka satu-satunya pilihan logis adalah saya harus melebar. Mengekspansi wilayah-wilayah yang belum terjamah. Dan Kacip adalah pilihan yang cerdas. Saya masih ingat betul, terakhir ke sana tahun 2009 bareng Sutadi, Imam, Batak dan Bintang, saya menemukan kupu berhamburan dimana-mana. Tapi waktu itu saya belum kenal sama si Rohana, jadi sering saya lewatkan begitu saja makhluk-makhluk cantik itu. Tapi kali ini saya akan habis-habisan memburu mereka.

***

Ya Allah, Ramadhan belum datang tapi sepertinya Lailatul Qadr sudah mendahului menyapaku. Setelah sampai di ruang PEH, 930-an frame itu langsung saya pilah satu-persatu, sambil saya identifikasi. Dan dari 64 spesies yang teridentifikasi, ada dua scene foto yang sepertinya spesies yang sama. Sangat menarik perhatian saya karena polanya mirip si Rohana. Saya cocokkan dengan foto Pak Bas di FOBI ternyata sangat mirip! Rohana nakula! Menariknya, jika mengingat proses pengambilan foto itu, scene pertama saya dapat pas di hari pertama setelah kami sampai di lokasi tenda dan selesai bikin tenda. Scene kedua saya dapatkan pas dalam perjalanan pulang! Keduanya di tepi sungai.

Rohana nakula, semoga saya tidak salah identifikasi

Kalo memang ini adalah jodoh, dia telah menyambut kedatanganku dan mengantar kepulanganku. Dan kalo memang ini adalah benar-benar jodoh, maka saya berharap ini adalah si Rohana setelah diidentifikasi ulang sama Kumendan FOBI.

Sempur Hujan-Rimba dan Rohana nakula, dua nama istimewa dalam ekspedisi 3 hari 2 malam di Kacip. Dan bukit Talpat yang aku selalu menyukai tempat itu. Sutadi, Iqbal dan Pak Nurdin yang saya sangat berterima kasih sudah bergabung. 41 jenis burung dan 64 jenis kupu-kupu (teridentifikasi) adalah angka yang membuat perjalanan ini sama sekali tidak sia-sia, bahkan jauh melebihi harapan saya.

Sungai Kacip, oase di tengah keringnya Baluran

Kacip, yang berada pas ditengah-tengah pusaran Baluran adalah lokasi terbaik bagi siapapun yang ingin belajar tentang alam, eksplorasi, atau sekedar melarikan diri dari keseharian yang melelahkan. Tahun depan, di bulan Juli, kita akan berjumpa lagi.