Tiny Things Under The Deep Blue Baluran Sea

I thought it would be easy to find and take a pictures of my most favorite marine organism: Nudibranch.  They have both brilliant colors and forms which should be easily caught by my eyes sight. As a mollusc member they don’t have any swiftly movements. Only crawling with their membrane-like foot or Javanese said: slow but sure (nggremet). Well, it was expected very easy to take some photo scenes. I said to my best dive buddy ever, Ferdy the Waterproof Man, “There will be a book of Nudibranch of Baluran soon.”

But it’s all just not as I expected as they should be. They are very god damned small! And this is under the sea brur! A place where we have no longer ability to do something more. No legs to walk, no speed to run and no lips to laugh! Hayo jajalo ngguyu karo nyelem! It means much easier to find Tumo on your head than caught any Nudibranch in their own habitat. We aren’t the ruler there, we’re a visitor, a foreigner.

Continue reading “Tiny Things Under The Deep Blue Baluran Sea”

Advertisements

We’re Indonesian and We’re Proud to be

Setelah Birds of Baluran National Park terbit, saya dapat kabar dari kawan, bahwa kawannya kawan saya itu bertanya kepada kawan yang punya kawan tadi, “Buku burung ini dua penulisnya orang bule ya? Swiss dan Richard?”. Spontan saya langsung ngguyu ngakak, ya jelas donk, kalo nama Richard Noske sudah jelas orang bule. Tapi “Swiss Winnasis”! Uteke a?!

Ok, now I tell you how bule I’m!

Continue reading “We’re Indonesian and We’re Proud to be”

Birds of Baluran National Park, Tabungan Akhirat Kelak

Akhirnya, terbit sudah buku yang saya mimpikan itu: Birds of Baluran National Park (BBB). Bahkan sampai detik ini saya masih belum percaya kalo nama saya terpampang di halaman cover urutan pertama lagi. Ngapunten Gusti Allah, saya bukannya gak bersyukur, cuma sedikit gak percaya saja.

Setelah melalui proses panjang, 4 tahun mengumpulkan foto, 2 tahun menyusun teks, 6 bulan pematangan teks, 3 kali ganti desain, dlsb, buku ini seperti menyiram kepala saya dengan air dingin di tengah-tengah padang pasir nan gersang. Semua rasa lelah, mangkel, frustasi, luruh dalam senyum dan syukur.

Continue reading “Birds of Baluran National Park, Tabungan Akhirat Kelak”

Dari Atas, Dari Bawah, Kau Selalu Mempesona, Sayang [photo essay]

Baluran, dulu nama ini sangat asing bagi saya, bahkan ketika pertama kali kaki saya mendarat di atas tanahnya. Sempat melegenda oleh savananya yang menawan dengan satwa-satwa berukuran besar di tengah-tengahnya pada tahun 80an sampai awal 2000an. Lalu kangker Akasia mulai menggerogoti keindahannya. Banteng, Kerbau dan Babi Hutan pun pergi entah kemana. Savana Baluran ditinggalkan sendiri melawan kanker ganas dalam tubuhnya. Di saat kangker Akasia terus menggerogoti Baluran, banyak orang mulai lupa dan meninggalkan Baluran. Tapi sekali lagi, tidak ada yang tidak menawan di tanah kering ini. Di manapun kaki menginjak dan mata anda memandang, saya selalu terpesona dengan kecantikannya.

Invasi Akasia itu sudah membentuk tipe hutannya sendiri yang... how do I call this?
Di luar hutan Akasia, bunga Kapasan Kuning yang mengering di musim kemarau adalah keindahan yang sering tidak disadari.
Dan Kapasan Kuning sebelum puncak kemarau di tengah-tengah savana
Saat pantai Bama memasuki surut jauh, Cangak Laut adalah salah satu burung yang paling sering muncul.
Masuk sedikit ke dalam hutan, Pelatuk Sayap-Merah yang selalu menjadi incaran para pengamat burung adalah jenis pelatuk paling umum di Baluran
Bangau Sandang Lawe kala hujan lebat menyerbu savana Bekol, kesempatan yang jarang ada.
Atau bapak-ibu yang lagi mejeng di "savana Bekol"?
Atau sunrise di Bama?
Atau cahaya pagi yang memanggil-manggil rerumputan?
Menyelinap ke dunia bawah laut. Dunia lain dengan wajah yang sama sekali berbeda melengkapi keindahan Baluran.
Pingin lihat Lionfish close up? It's no a big deal...
Atau menggoda anemon fish ini?
Ah, Sayangku, dilihat dari sisi manapun, kau tetap mempesona...