Sumba Part 3: Ngintip Tanah-Tanah Tinggi Tetangga Baluran

Saya biasanya paling males mengeluarkan kamera kalau sudah di atas kabin pesawat. Tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba penerbangan kedua ke Sumba lalu tangan saya tergerak ingin mengeluarkannya dari dalam ransel. Mungkin karena posisi ransel tepat di depan saya kali ya? Penerbangan Surabaya-Tambolaka, yang harus transit dulu di Denpasar itu, saya lewati pake WingsAir. Ya, itu adalah pesawat baling-baling ATR 72-500 yang menggunakan mesin PW127F atau PW127M. Kabinnya kecil, begitu juga dengan bagasi dalamnya. Tas kamera saya saja tidak muat.

Continue reading “Sumba Part 3: Ngintip Tanah-Tanah Tinggi Tetangga Baluran”

Advertisements

Sumba Part 2: Ojo Gampang Nuduh

Mungkin salah satu komponen fotografi, terutama satwa liar yang paling mahal bukan di alat. Alat memang penting, tapi bukan yang terpenting. Lalu apa donk? Saya tidak mau bicara normatif untuk menyebut komponen terpenting dalam fotografi adalah niat. Biarkan niat menjadi integral dalam setiap manusia sebagai manusia berakal sehat atau setidaknya baligh. Orang dewasa yang mengambil sebuah tindakan tanpa didahului niat, maka bisa jadi dia kurang sehat akalnya atau bayek tuwek. Jadi mari abaikan saja niat dalam fotografi.

Continue reading “Sumba Part 2: Ojo Gampang Nuduh”