Cangar, A Place I Must Coming Back

Sejak pertama berjumpa saya sudah jatuh cinta pada tempat ini. Udara dinginnya, air panasnya, dan tentunya para penghuni hutannya. Entah sudah berapa tulisan yang sudah saya buat untuk melampiaskan kekaguman saya kepada hutan di kaki Gunung Arjuna ini. Dan berapa foto? Hmmm… lupa saya, yang pasti buanyak!

Continue reading “Cangar, A Place I Must Coming Back”

Advertisements

Sumba Part 4: Menemukan Sumba

Kunjungan kedua ke salah satu pulau paling selatan Indonesia ini tidak ada yang paling saya harapkan selain menemukan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang akan membuat saya benar-benar jatuh cinta dengan legenda, mitos dan kekononannya itu. Hamparan savananya sudah, burung paruh bekoknya sudah, udara dinginnya sudah, muka manusia-manusianya juga sudah! Apalagi kira-kira yang belum? Continue reading “Sumba Part 4: Menemukan Sumba”

Kacip, We Did It Again! Even Perfectly!

Ini adalah yang pertama kalinya saya mengunjungi Kacip – Kawah Gunung Baluran- di luar bulan Juli. Tepatnya Oktober. Dan tepatnya lagi karena mbayar janji untuk menemani teman-teman dari Biolaska yang melakukan ekspedisi di sana. Lima hari empat malam di Kacip benar-benar luar biasa dan menjadi obat kangen saya saat ke Kacip bareng Batak, Imam, Bintang dan Sutadi selama hampir seminggu 2009 yang lalu. Itulah kali pertama saya mendengar nama Luntur dan melihat fotonya pertama di Kacip, dan sejak saat itu, Luntur adalah target utama setiap kali ke Kacip. Continue reading “Kacip, We Did It Again! Even Perfectly!”

Gusti Allah Foundation (II): Ketika Negara Menyuruh Saya Menjadi PEH Baluran

Menjadi PEH (Pengendali Ekosistem Hutan) sama sekali bukan cita-cita saya. Tidak ada itu istilah PEH dalam angan-angan muluk saya. Dan Baluran? Saya bahkan sudah lewat di depan pintu gerbangnya berkali-kali, tapi baru 4 tahun silam (tepat sebelum menjadi pegawai Baluran) kalau itu gerbangnya Baluran! Atau kalau ditarik agak ke belakang, menjadi PNS itu terlalu berlebihan buat saya. Saya takut menjadi orang malas dan berpenghasilan tidak barokah seperti PNS-PNS di kota saya. Maaf, mungkin ini terlalu skeptis, tapi stigma negatif PNS di Indonesia tidak bisa dipungkiri. Dan saya tidak cukup keberanian menanggung pertanggungjawabannya kelak di hadapan pengadilan akhirat kalau saya ikut-ikutan acaranya.

Continue reading “Gusti Allah Foundation (II): Ketika Negara Menyuruh Saya Menjadi PEH Baluran”