Awas, Balanan Bisa Bikin Dekompresi!

Apa yang biasa terjadi saat adzan maghrib berkumandang di bulan Ramadhan? Wohoo… semua makanan serasa ingin dilahan habis. Dan sepertinya emang iya, melahan apa saja yang ada di meja. Kalau puasa diving disamakan dengan puasa makan, apakah sampeyan mau melakukan hal yang sama saat kesempatan membatalkan puasa datang? Oh no, never! Itu sama saja dengan Anda bunuh diri! Continue reading “Awas, Balanan Bisa Bikin Dekompresi!”

Advertisements

Karena Ilmu Itu Harus Murah Kalau Tidak Bisa Gratis

Sudah satu bulan lebih kami memiliki kesibukan baru. Sesuatu yang sebenarnya sudah saya inginkan sejak waktu yang lama. A long, long ago: mengasuh sebuah kelompok belajar. Hmmm… biasa ya? Ya memang biasa. Kelompok belajar di mana-mana juga ada, dan banyak. Dengan berbagai macam metode, mata pelajaran, fasilitas, tarif, kompetensi pengajar atau modal di belakangnya. Continue reading “Karena Ilmu Itu Harus Murah Kalau Tidak Bisa Gratis”

Metode Sabar

Sabar itu berarti tidak boleh mudah marah. Sabar itu bisa juga bermakna kuat memaksa diri untuk tidak menuruti apa saja yang menjadi keinginannya. Sabar itu pada wilayah Islam adalah berkomitmen untuk meninggalkan larangan Allah dan menjalankan semua perintah-Nya, kira-kira begitu ya? Pada level tertentu, sabar itu menyimpan makna rela meletakkan kebaikan orang banyak di atas egoisme pribadi. Pada ruang yang lebih privat, sabar adalah telaten mengasuh waktu dan energi berdamai dengan masalah-masalah untuk meraih mimpi. Continue reading “Metode Sabar”

Supaya Kami Bisa Terus Bekerja (V): Ayo Bekerja, Ayo Bergembira

Dengan berjalannya program kerja tahunan minimal, dan technically, sangat membantu kami dalam penyusunan DUPAK. Memang itulah alasan paling sederhana organisasi ini dibentuk. Kawan-kawan yang mau menyusun DUPAK tidak lagi kesusahan ngebut laporan karena sudah tersedia. Di setiap akhir tahun, laporan-laporan yang pembuatannya digarap dengan kerja bakti ini sudah dibukukan dengan rapi beserta kelengkapan administrasinya. Dan kebiasaan kerja bakti ini akhirnya menular tidak hanya ketika melakukan kegiatan yang berhubungan dengan DUPAK, tapi juga selainnya. Continue reading “Supaya Kami Bisa Terus Bekerja (V): Ayo Bekerja, Ayo Bergembira”

Supaya Kami Bisa Terus Bekerja (IV): Berdamai Dengan Keterbatasan, Semua Masalah Pasti Ada Solusinya

Tahun 2000-2007 bisa dibilang sebagai masa-masa sulit PEH Baluran. Meskipun dalam struktur organisasi balai jelas-jelas ada Kelompok Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan yang dipimpin oleh seorang koordinator, namun itu hanya sekedar “gugur kewajiban”. Dukungan balai terhadap berjalannya tupoksi PEH sangat tidak signifikan. PEH dipandang sebagai personal-personal mana yang bisa “dipakai” dan mana yang tidak masalah “dibiarkan”. Continue reading “Supaya Kami Bisa Terus Bekerja (IV): Berdamai Dengan Keterbatasan, Semua Masalah Pasti Ada Solusinya”

Supaya Kami Bisa Terus Bekerja (III): Organisasi: Leadership Adalah Kunci, Kebersamaan Anggota Adalah Pemegang Saham Terbesar

Merampok ayamnya Siswo lalu dibakar rame-rame di Labuhan Merak. Oh guys, I'll always miss this moment.
Merampok ayamnya Siswo lalu dibakar rame-rame di Labuhan Merak. Oh guys, I’ll always miss this moment.

Dalam bab ini saya minta maaf kepada bapak-ibu sekalian jika saya terlalu emosional membahas betapa pentingnya peran leadership dalam tubuh organisasi. Emosional yang pertama adalah apresiasi setinggi-tingginya untuk koordinator kami, Pak Yusuf Sabarno. Sebagai seorang pemimpin ia sudah komplit! Cakap berkomunikasi, rendah hati, lembut, visioner, dan memiliki akhlak yang –menurut penilaian saya- sudah sampai pada level ahlaqul karimah. Sedangkan para pemandu sorak lainnya, termasuk saya, juga berakhlak tapi ahlaqul usilah dan ahlaqul guyoniyah! Dan yang paling usil itu siapa lagi kalau bukan Agus Yusuf, Nanang Dwi dan kalau katanya kawan-kawan berikutnya adalah saya! Tentu saya menyangkal tuduhan kejam itu. Continue reading “Supaya Kami Bisa Terus Bekerja (III): Organisasi: Leadership Adalah Kunci, Kebersamaan Anggota Adalah Pemegang Saham Terbesar”

Supaya Kami Bisa Terus Bekerja (II): Bahwa PEH Adalah Organisasi, Itu Wajib!

PEH Baluran (belum full team) sebelum meluncur ke lapangan
PEH Baluran (belum full team) sebelum meluncur ke lapangan

Pada tahun 2003 makin banyak peneliti, mahasiswa praktik lapangan dan kegiatan eksplorasi hayati lainnya yang datang ke Taman Nasional Baluran. Banyak dari mereka yang membutuhkan pemandu di lapangan, asisten lapangan atau sekedar pra-observasi melalui diskusi perihal site study yang akan diambil. Kawan-kawan PEH mulai menyadari bahwa kemampuan teknis eksplorasi hayati sangat dibutuhkan. Continue reading “Supaya Kami Bisa Terus Bekerja (II): Bahwa PEH Adalah Organisasi, Itu Wajib!”

Supaya Kami Bisa Terus Bekerja (I): Emang Enak Jadi PEH?

Swiss dan 2 rekannya yang “gila” urus burung (Sutadi dan Achmad Toha) adalah figur-figur anomali di antara ratusan PEH di seluruh Indonesia.” — Pengantar Editor

Kalau Tidak Turun, Nanti Dimarahi Pak Kadus
Kalau Tidak Turun, Nanti Dimarahi Pak Kadus

Tulisan ini sebenarnya berjudul “Supaya Kami Bisa Terus Bekerja, Berkarya Untuk Hutan Lestari” yang dimuat di buku mengenai cerita-cerita dari lapangan staff PHKA di beberapa UPT di seluruh Indonesia: Kalau Tidak Turun, Nanti Dimarahi Pak Kadus: Geliat Kepemimpinan Kaum Muda di Kawasan Konservasi. Judul saya potong biar gak kepanjangan aja sih hehehe… Continue reading “Supaya Kami Bisa Terus Bekerja (I): Emang Enak Jadi PEH?”

Seram Part IV: The Land of Endemism

Wallacea adalah rumah bagi makhluk-makhluk endemik sudah pasti. Dan tidak sedikit yang hanya terdapat di pulau-pulau kecil. Sejarah geologisnya mengisolir gugusan pulau-pulau di wilayah ini menjadi kawasan yang terpisah dari paparan benua Asia dan Australia. Jadilah Wallacea menjadi kerajaan bagi spesies-spesies endemik yang tidak mungkin ditemukan di tempat lain di muka bumi. Bahkan konon, endemisitas wallacea ini masih dibagi-bagi lagi berdasarkan paparan Sunda dan paparan Sahul. Karena penarikan garis wallacea oleh Wallace hanya berdasarkan penampakan sepihak terhadap kekhasan mamalia, padahal jika penarikannya berdasarkan sebaran flora, bisa jadi garis wallacea tidak pernah ada.

Whatever lah, wong saya bukan geografer, geologist, apalagi biologist. Saya itu cuma mau pamer foto-foto burung endemik wallacea yang kecantol di lensa kamera saya. Trus ngapain saya keminter begitu? Mau digaris, mau dikotak, mau dibrongkos ya sana. Trus sakjane sing gendeng iki sopo? Continue reading “Seram Part IV: The Land of Endemism”