From Bathophobia to Book of Reef Fish

It has been for 3,5 years I’m putting my spare time in a little damn project. With my dive buddies Ferdy and Agus, and latter madam Tiwi, we tried to write a kind book of underwater. Yes it’s a reef fish book of Baluran National Park! And I still don’t believe that I’m working on it now! Damn!

Water, sea, depth are things that I didn’t want to deal with. Though I’ve tried to join with a dive club in my university, and of course I was not eligible. I couldn’t swimming for 200 m or even floating for 20 minutes then I realize there is no sea to dive for. No smoker will dive any sea in this planet, I guess. And I keep smoking hahaha…

Continue reading “From Bathophobia to Book of Reef Fish”

Advertisements

Cangkul Sakti Om Pitut

Di kampung saya di Batu, ada tukang penggali kubur bernama Om Pitut. Saya gak tahu nama aslinya siapa, tapi sejak saya kecil yang saya tahu namanya ya itu. Om Pitut adalah orang super aneh, suaranya keras kayak orang marah-marah, mukanya serem, kumisnya tebal, hobinya mabuk-mabukan tapi lucunya minta ampun. Meskipun biasa menggali kubur dan membuat kapling alam barzah dan melihat jasad orang mati tidak membuat dia menjadi seperti layaknya orang yang beragama taat. Selama saya aktif di masjid dulu, tidak pernah saya lihat orang ini sholat di masjid. Bahkan saya yakin kalau dia adalah orang abangan. Sepertinya kengerian kematian tidak lebih memabukkan dari alkohol yang ditenggaknya. Continue reading “Cangkul Sakti Om Pitut”

Semua Bisa Menjadi Guru, Semua Bisa Menjadi Pandai

Minggu lalu kelas sempoa kami sudah selesai placement test. Hah? Sekian lama jalan baru sekarang placement test? Ya namanya juga sekolah alternatif, semua serba spontanitas. Bikinnya saja juga spontan. Kurikulum gak ada, sehingga segala sesuatunya serba improvisasi. Namun ada yang sedikit “merusak acara” ketika ada 13 murid baru dari kampung tetangga datang tiba-tiba pas hari test. Ahh.. makin ramai saja. Ramainya sih ok, tapi gimana bisa belajar intensif kalo muridnya segini banyak? Mungkin sudah mencapai 60an lebih kali ya? Dan fasilitatornya cuma 3 orang! Ah, sudahlah, simpan dulu anak-anak itu. Sekarang test dulu. Continue reading “Semua Bisa Menjadi Guru, Semua Bisa Menjadi Pandai”