PPBI VII Bima, Fardu Kifayah Untuk Umat Pengamat Burung Indonesia

Saya sempat tidak yakin akan berangkat ke Bima. Perhelatan Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) VII tahun 2017 sempat saya anggap hoax. Semua pembicara yang diharapkan datang berbagi ilmunya ternyata tidak ada yang hadir. Peserta sampai H-7 masih 1 orang. Ketua panitia tiba-tiba menghilang ditelan keriuhan facebook. Panitia yang tersisa, laman facebook-nya dipenuhi status-status galau dan kekecewaan terhadap hidup yang mereka anggap tidak adil. Padahal, kalau perhelatan tahunan para amatiran ini sampai gagal, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan dunia para amatiran di masa datang.

Maksud saya begini. Kalau sampeyang datang, katakanlah di setiap agenda PPBI, apa untungnya buat sampeyan? Datang acara seminar, minimal sampeyan masih dapat sertifikat. Datang pelatihan sampeyan dapat lisensi atau sebosok-bosoknya masih dapat kaos. Datang lomba bisa dapat doorprize, syukur dapat hadiah. Tapi kalau PPBI? Paling banter kan cuma no WA calon gebetan? Tapi bukankah justru itulah kekuatan sebenarnya dari kata gerakan amatir?

Amatir, atau amateur pertama kali digunakan pada tahun 1784. Berasal dari bahasa Perancis ameour; amatorem, amatus atau amare dalam bahasa latin yang semuanya merujuk pada arti kata cinta atau mencintai. Yaitu seseorang melakukan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan. Kecuali no WA calon gebetan. Amatir hampir diidentikkan lawan dari kata professional. Professional bisa berarti skilled bisa juga berarti kata benda untuk “seseorang yang melakukan sesuatu untuk hidup”.

Dari kedua definisi itu, sudah bisa ditebak seperti apa nasib para amatiran: kalau nggak tekor ya kalau beruntung bisa mengakhiri status jomblo. Masalahnya, PPBI VII Bima dipastikan semua yang datang mendapati semua resiko paling pahit. Pahit pertama, tekor, karena melakukan perjalanan ke Timur mencari kitab suci itu tidak murah. Ongkos pesawat mahal. Naik kapal laut bisa seminggu dari Jawa, meskipun tiket jauh lebih murah dari pesawat, ujung-ujungnya duit juga habis buat beli camilan selama di atas geladak. Atau kalaupun naik motor setidaknya 3-4 hari, ongkos tukang pijat, obat encok, jamu tolak wasir juga nggak murah. Itupun kalau tidak ditabrak sama bus patas hahaha…

Pahit kedua, gak ada peluang nambah gebetan buat para jomblowers. Dan ini adalah yang paling menyakitkan. Maaf, ini bukan untuk saya, tapi titipan dari para spesialis bujangan yang curhat ke saya. Ini adalah perhelatan PPBI paling gersang sepanjang sejarah! Panitianya cowok semua, mbrongges-mbrongges pula! Pesertanya 99 persen kaum batangan. Yang cewek itu pun datangnya di hari-hari terakhir. Mana mungkin saya, meskipun sudah punya modal ngganteng begini, bisa meluluhkan hati seorang wanita hanya dalam 2 hari? Cewek pengamat burung lagi! Apa nggak meninggal mulut saya?

Tapi seperti kata saya di awal, the show must go on! Peradaban dunia berubah karena letusan Tambora 200 tahun silam. Musim dingin panjang akibat kegelapan dunia oleh debu vulkanik tambora menyebabkan kematian masal kuda sebagai sarana transportasi utama waktu itu. Maka terciptalah apa yang sekarang kita kenal sebagai mobil. Dan dari pulau ini pula, peradaban dunia amatir Indonesia bergantung. Secara psikologis, kegagalan PPBI Bima akan meruntuhkan mental dan semangat para pecinta sejati di tahun-tahun selanjutnya.

Loh, kok bisa? Dimana logika sombongnya?

Maaf, saya harus mundur lagi ke belakang. Menjelaskan lagi – dan lagi- tentang hal ini. Mari kita berhitung sederhana. Indonesia memiliki lebih dari 1,600 jenis burung. Tersebar di wilayah Indonesia seluas 1,904,569 km2, atau 297,588,906 kali luas lapangan sepakbola standar FIFA. Hidup di antara 17,500 pulau dari Sabang sampai Merauke. Sampai di sini, sudah kebayang kan?

Di sisi lain, per 2014, laju kehilangan hutan alami Indonesia adalah 47,600 ha/tahun. Kira-kira setara dengan 74,375 lapangan sepakbola per tahun, atau 204 lapangan sepakbola per hari, atau 8.5 lapangan sepak bola per jam! Bisa dibayangkan ada berapa sarang burung, pohon-pohon disukai burung, sumber pakan burung yang hilang pada rentang 8.5 lapangan sepakbola itu? Clear?

Di sisi lain yang sebelah lainnya lagi, berdasarkan data Traffic, selama tahun 2014 ada 19 ribu individu burung dari 206 spesies yang dijual di pasar burung Pramuka, Jakarta. Itu baru satu pasar! Tinggal dihitung saja ada berapa banyak pasar, lapak, akun dan grup facebook di Indonesia yang jualan burung? Gak peduli legal atau ilegal. Jadi kira-kira ada berapa ratus ribu -bahkan juta- individu burung yang berakhir di sangkar kebanggaan para pecinta burung picisan? Per tahun!

Lanjut?

Di antara angka-angka itu lagi, kira-kira siapa yang kuat mengurusi burung di Indonesia? Mari berhitung kasar lagi. Kalau nasib burung itu, secara fundamental berada di pundak peneliti (profesional), memangnya berapa jumlahnya? Per 2014, jumlah peneliti yang dimiliki LIPI ada 1,541 orang. Yang pasti kurang dari 1% yang spesialis burung. Jika profesi dosen kita masukkan sebagai peneliti, per 2016 ada 208,724 dosen di seluruh Indonesia, dari seluruh cabang ilmu. Dan saya masih yakin, kurang dari 1% yang serius dengan burung. Satu-satunya benteng terakhir tenaga professional adalah dari NGO dan petugas lapangan yang dimiliki Kementerian LHK. Tapi maaf saya tidak bisa menemukan data kuantitatif jumlah simpatisan NGO di Indonesia.

Akhirnya benteng terakhir keberlangsung kehati kita ada di pundak Kementerian LHK. Sampeyan boleh apatis dengan aparat pemerintah atau PNS. Tapi bagi para forester ini, tindakan mereka terkadang memerlukan efisiensi dan efektitas tinggi. Selalu ada tindakan konkrit di lapangan yang kadang makruh harus menunggu rekomendasi saintifik atau akademis. Apatis atau tidak kita harus obyektif bahwa merekalah satu-satunya yang punya otoritas tertinggi terhadap nasib kehati di Indonesia, karena kementerian ini yang langsung memangku kawasan hutan di seluruh Indonesia.

Jadi ijinkan saya lanjutkan pelajaran berhitungnya. Per 2015 ada 18,243 pegawai KLHK yang resmi tercatat di Biro Kepegawaian Negara. Jumlah itu sudah termasuk mereka yang sehari-harinya ngadem di dalam ruangan ber-AC, mulai dari yang pekerjaan utamanya titip absen, bikin surat, sampai yang hari-harinya bertaruh nyawa berhadapan dengan parang, panah, chain saw, sampai senjata api rakitan para pelanggar hutan. Mulai dari pegawai sebuah direktorat yang melihat hutan “hanya” dari satelit sampai mereka yang bisa membedakan bau kencing kerbau liar dan banteng Jawa.

Jika diakumulasi ada 228,508 tenaga professional yang bisa dihandalkan untuk mengurusi semua burung di 1.9 juta km2 luas dan 17.5 ribu pulau wilayah Indonesia. Dari laut sampai gunung paling tinggi di Papua. Silahkan dikira-kira sendiri berapa duit yang harus dikeluarkan untuk membiayai penelitian-penelitian dan program-program kehutanan selama setahun. Termasuk gaji orang segitu banyaknya. Saya tidak akan bertanya “Lalu apa hasilnya?” Oh tidak! Itu akan sangat sarkatis dan lancang. Kita bandingkan saja dengan potensi para amatiran.

Per November 2016 penduduk Indonesia sudah mencapai 261,845,880 jiwa. Jika saja, 1% dari penduduk Indonesia mau keluar rumah, mengamati burung, memotret burung dengan alat semampunya, mencatat apa saja yang ditemukan, lalu saling berbagi informasi dan pengetahuan kepada sesama amatiran maka kita sudah mempunyai lebih dari 2.5 juta petugas pemantau dan penjaga kelestarian burung di seluruh Indonesia. Jumlah itu sudah 10x lipat tenaga profesional yang ada.

Ok, berdasarkan jumlah memang menang mutlak, tapi kualitas kan masih jauh dari para professional?

Nah, di situlah salah satu peran penting PPBI! Mengumpulkan, mengorganisasi, menselaraskan, meningkatkan pengetahuan-skill dan ngopi bareng bagi para amatiran adalah maqom dimana PPBI berada dalam kancah pergerakan kaum amatir! Kalau Sukarno cuma butuh 10 pemuda untuk mengubah dunia, saya realistis saja: berikan semua makhluk amatiran dan akan saya rangkul satu-persatu pundak mereka dan bersama-sama kita selamatkan kekayaan hayati Indonesia!

Jadi, bos-bosque semuanyah. Kelestarian kekayaan hayati Indonesia memang tidak bisa lepas dari peran para peneliti, aktifis dan forester profesional. Tapi, seandainya saja kekuatan besar kerajaan gajah itu disatukan dengan pasukan dari kerajaan semut yang selama ini senyap bergerak di bawah tanah, sehebat apapun sihir Saruman dan bala pasukan org-nya tidak akan mengalahkan kebenaran dan keadilan di muka bumi. Hanya dengan bersatu-padu mengeratkan tangan, menajamkan ide bersama, komitmen yang sungguh-sungguh lah keberadaan makhluk amatir akan membawa perubahan. Minimal mengubah status jomblo!

PPBI VII Bima sebagai penyambung rantai perhelatan tahunan alhamdulillah sudah berjalan sesuai dengan yang tidak direncanakan hahaha… Bima, selain menjadi lokasi paling timur dalam sejarah kumpul kebo para pengamat burung amatir di Indonesia, adalah pembuktian kecil tapi eksplisit dan lantang betapa tidak ada yang bisa mematikan semangat amatir. Meskipun semua rencana acara tidak sesuai dengan yang dirahapkan, saya pribadi menganggap ini gugur fardu kifayah. Cuma ditunaikan oleh beberapa gelintir orang saja, tapi gugur dosa semua pengamat burung di Indonesia hahahaha…

Telungkup sepuluh jari saya ke hadirat oknum-oknum Sindikat yang sudah melaksanakan PPBI VII dengan penuh kidmat dan kegersangannya… lamboade…

Peserta PPBI VII Bima
Para Pejuang dan Pecinta Sejati, PPBI VII Bima. Foto: asal donlot dari fesbuk

Bahan bacaan:

Chng, S. C. L., Eaton, J. A., Krishnasamy, K., Shepherd, C. R., & Nijman, V. (2015). In the market for extinction: An inventory of Jakarta’s bird markets.

Geohive. (2016). geohive – Population Statistics. Retrieved January 1, 2016, from http://www.geohive.com/default.aspx.

Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan. (2015). Statistik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2015. Jakarta.

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. (2016). SRV2 PDDIKTI : Pangkalan Data Pendidikan Tinggi. Retrieved November 30, 2016, from http://forlap.ristekdikti.go.id/dosen/homerekapjabfung.

LIPI. (2016). Sumber Daya dan Kompetensi. Retrieved November 30, 2016, from http://lipi.go.id/tentang/sumber-daya-dan-kompetensi

Margono, B. A., Potapov, P. V., Turubanova, S., Stolle, F., & Hansen, M. C. (2014). Primary forest cover loss in Indonesia over 2000–2012. Nature Climate Change, 4(8), 730–735. http://doi.org/10.1038/nclimate2277

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s