Tuhanku, Hinalah Hamba!

Tulisan ini harus selesai dalam sekali tulis. Karena kalau sampai tersimpan lagi sebagai draft, maka saya jamin dia akan menguap lagi. Tersudutkan di dalam server-nya WordPress, dilupakan, dan akhirnya dibuang sebagai old-rubbish file!

Ok, terus mau nulis apa?

Ini sudah yang kesekian kalinya jemari, otak dan libido menulis tidak menemukan kata sepakat membuat dan menyelesaikan sebuah tulisan, meskipun hanya 2-3 paragraf. Meskipun hanya berisi omong kosong atau sumpah serapah merasakan nikmatnya bekerja dalam sistem birokrasi. Kalau sampeyan adalah seorang PNS yang punya idealisme, meskipun cuma sebiji upil, maka sampeyan cuma punya 3 pilihan: mati muda, mati setengah tua, atau kalau sampeyan memang orang yang tangguh, sampeyan harus banyak menyiapkan betadin dalam kotak P3K, karena pilihan ketiga adalah sampeyan akan babak belur untuk bertahan sampai tua. Continue reading “Tuhanku, Hinalah Hamba!”

Advertisements

Petungkriyono Part II: Hunt Them All! Leave No Remains!

Bayangan pertama yang keluar saat saya ditelpon Antok untuk mengisi materi pelatihan fotografi di Petungkriyono adalah menyempatkan diri bertemu dengan burung ghoib Engkek Geling Cissa thalassina. Hutan di sepanjang pegunung antara Gunung Slamet dan Gunung Sindoro, atau banyak yang mengenalnya sebagai Pegunungan Dieng, adalah salah satu habitat burung super langka itu. Di sanalah, konon, sisa-sisa jasad hidup burung bergincu merona ini berada. Nah, hutan Petungkriyono berada di sisi barat laut pegunungan Dieng.

Semangat menggebu-gebu untuk lihat live show si bibir gincu itu juga menjangkiti my hunting mate Nurdin. Pokoknya kalo lagi ngobrolin masalah burung, yang pertama kali dibahas adalah si gincu. Tapi apakah yang terjadi? Continue reading “Petungkriyono Part II: Hunt Them All! Leave No Remains!”

Petungkriyono Part I: Siluman Bangkit Dari Kubur

Tiga bulan sebelas hari blog ini nggak saya apdet. Jangankan nulis, mbuka halaman dashboard aja nggak. Mungkin saya sudah bosan menulis? Mungkin capek jadi PEH? Atau jangan-jangan saya sudah muak jadi PNS dengan segala ketidaklogisan sistem di dalamnya? Atau mungkin perlu sekali-kali saya bertransformasi jadi siluman kera. Dihukum 500 tahun belajar membaca alif ba ta ayat-ayat Tuhan di bawah gunung Tapak Budha. Continue reading “Petungkriyono Part I: Siluman Bangkit Dari Kubur”

Menang Tanpa Ngasorake

Mungkin kita sudah lupa bagaimana rasanya menjadi pemenang. Timnas kita berkali-kali harus tertunduk malu saat melalui pertandingan puncak di berbagai kompetisi. Dan itu tidak hanya sekali. Di tempat lain, kita bersorak-sorak begitu partai pilihan atau calon presiden idola meraih suara tertinggi. Sesaat kita bisa mencium aroma kemenangan, membayangkan janji-janji para jurkam tentang lapangan pekerjaan yang lebih luas, sekolah murah, harga-harga sembako terjangkau dan lain sebagainya. Tapi, tidak lama kemudian kita sadar bahwa yang menang bukan rakyat Indonesia karena janji-janji itu menguap ruang sidang anggota dewan atau nylempit di bad sector memory pak presiden. Continue reading “Menang Tanpa Ngasorake”

Cerita Burung Pelatuk Sampai Penemuan Burung Dunia

Pagi-pagi sekali, jam 7,hari Kamis kemarin, hape saya berdering. Padahal mata saya masih belum mau dibuka. Dengan terpaksa saya angkat gadget buatan Cina itu.

“Mas, saya dari TIKI. Ada kiriman untuk Mas Swiss dari Inggris! Saya sudah di depan pos kantor Baluran.” suara dari dalam kotak hitam itu mengagetkan saya.

Kiriman dari Inggris? Perasaan saya gak pernah kontak-kontakan sama orang Inggris. Kecuali, dengan beberapa agen rahasia MI6 yang saya rasa tidak perlu saya ceritakan di sini.

“Baik, Pak. Saya meluncur sekarang.” jawab saya masih dengan pita suara penuh air ludah dan bau mulut super mambu!

Continue reading “Cerita Burung Pelatuk Sampai Penemuan Burung Dunia”

Kacip 2014: No Birds Story

Dari dulu, saya selalu menyukai tempat ini. Tidak ada tempat yang lebih ngangeni di Baluran selain Kacip dengan segala cerita behind the scene-nya. Savana Talpat yang menawan setiap pemburu pemandangan landscape. Burung-burung yang tidak dijumpai di tempat lain di Baluran. Nuansa sunyi yang hanya nada ritmik riak air sungai memenuhi seisi lembah. Lutung yang tiap malam suka ngebom tenda dan alat-alat masak dengan telek-nya. Continue reading “Kacip 2014: No Birds Story”

Menjadi Peneliti Bermodal Smartphone

Pada bulan Mei 2010 silam, di Markas Militer Balad, utara Baghdad, Irak, seseorang membawakan seekor katak yang dibungkus plastik kepada seorang sersan bernama  Jonathan Trouern-Trend. Katak ini ditemukan bersembunyi sebuah toilet. Trouern-Trend yang dikenal sebagai seorang ahli identifikasi biologi itu pun mengambil foto si katak lalu mengungahnya melalui aplikasi ponsel pintar iNaturalist. iNaturalist adalah komunitas global tempat orang-orang melaporkan temuan flora dan fauna.

Tidak lama kemudian ada yang mengkonfirmasi foto si katak sebagai Lemon-yellow Tree Frog (Hyla savignyi). Hal yang menarik adalah lokasi temuan katak itu ternyata catatan baru. Selama ini peneliti tidak pernah menemukan katak itu keluar dari region Kurdistan. Continue reading “Menjadi Peneliti Bermodal Smartphone”

Catatan Pinggir Meh Nyemplung Kali Nanang “Kampret”

Diam-diam saya mengagumi teman saya satu ini. Beberapa bulan terakhir ini saya memantau terus statusnya di fesbuk. Diam-diam saya menangkap energi yang sangat mengagumkan dari gelombang dalam membran-membran otak dan jiwanya.

Mungkin banyak orang yang menganggap dia gila dengan segala kegilaan. Tapi kalaupun dia memang benar-benar gila, di jaman para penyembah kelamin dan perut sekarang ini, saya lebih memilih orang yang benar-benar gila seperti teman saya ini. Setidaknya dia tidak dipenuhi kepura-puraan.

Silahkan menikmati Top 10 status fesbuk Nanang “Kampret”. Continue reading “Catatan Pinggir Meh Nyemplung Kali Nanang “Kampret””

Teori Sex Pekok-Pekokan

Baru saja dikasih link sama istri. Sebuah cerita kegelisahan seseorang tentang perilaku natural anak-anak muda yang masih SMP. Bukan perilaku contek-contekan pas ujian apalagi demam selfie, tetapi perilaku seksual.

Pada tulisan itu si penulis terlihat sangat frustasi melihat bagaimana anak-anak SMP sudah begitu familiar dengan adegan persetubuhann biologis itu, bukan hanya familiar dengan istilah atau tontonan, bahkan banyak dari mereka sudah terbiasa melakukannya dengan teman lawan jenisnya. Mulai dari oral sex sampai vaginal sex, anak-anak itu begitu lihai memainkan perannya. Bahkan ada dari mereka yang melakukannya di ruang kelas, sambil berdiri pula! Wow! Pokoknya mirip banget sama adegan-adegan di film porno. Lo kok tahu? hehehehe… Continue reading “Teori Sex Pekok-Pekokan”