Bentet Lagi…Bentet Lagi…

bente kelabu

Ini dia burung yang setiap aku hunting mesti nyantol di frame-ku. Lanius schach atau bentet kelabu (ada juga yang menyebutnya cendet atau pentet) ini memang burung yang sangat umum dijumpai di Jogja, atau mungkin di manapun di Sunda Besar. Baik di alam maupun di dalam sangkar. Salah satu kelebihan burung ini ketika di sangkar adalah dia bisa menirukan suarang burung lain yang mungkin harganya jauh lebih mahal dari harga dia.

Dia bukan tipe burung pemalu, suka bertengger di tempat-tempat terbuka di tepi hutan atau di tegalan. Suaranya yang khas serta warna bulunya yang agak mencolok membuat burung ini sangat mudah difoto.

bentet kelabu2

Foto ini saya ambil di Tahura R. Suryo, Malang. Lokasi ini memiliki kekayaan burung yang sangat tinggi, lebih 300 jenis burung ditemukan di sekitar tahura ini. Hampir sama dengan jumlah jenis seluruh burung yang ada di Jogja yang kurang dari 345-an. Dan yang lebih asyik lagi, jika anda hunting di sini adalah, anda bisa memotret burung sambil kum-kum di air hangat.

Happy birding

Never ending digiscoping

Advertisements

Merapi Cerah

betet biasa3

Merapi sangat cerah hari ini. Pas banget buat ”nembak” betet biasa (Psittacula alexandrii). Mungkin ini adalah burung yang sangat common di lereng merapi. Tapi kerena aku belum punya fotonya, ya tiada pilihan lain selain harus me-fotonya to? Masak mau melukisnya? Malah gak lucu boss.

 

Kalau anda pergi ke merapi, ini adalah burung yang paling ribut, paling sering melintas di atas kepala anda, hinggap untuk beberapa lama sambil mengomel, lalu terbang lagi berkelompok sambil mengeluarkan suaranya yang khas.

 

Salah satu hal yang membuat dia mudah difoto selain sangat banyaj di merapi adalah dia bukan tipe burung yang pemalu seperti kepodang kuduk hitam. Asal anda tidak terlalu berisik, rasa anda akan bisa menikmatinya dengan cukup seksama dalam waktu yang lama.

 

 betet biasa2

Cuaca yang cerah di ketinggian di atas 1300,membuat hasil foto dari olahan digiscoping semakin maksimal. Karena beberapa kelemahan teknik digiscoping adalah adanya deflaction cahaya matahari yang diakibatkan oleh kurang sempurnanya posisi lensa obyektif terhadap lensa okuler. Semakin terik sinar matahari semakin besar resiko terjadi deflaction. Kira-kira begitu ya?

 

So, salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam memakai teknik digiscoping adalah posisi anda mengambil foto. Sebisa mungkin jangan sampai background foto anda memiliki pancaran sinar matahari yang terlalu kuat. Begitu juga ketika mendung, jangan sampai anda mengambil gambar dengan background langit yang sedang mendung, saya jamin deh foto anda tidak akan maksimal.

 

Good birding

Never ending digiscoping

*swiss

Seperti Istri Pulang Dari Malaysia

burung madu sriganti

Bagaimana perasaan anda ketika tiap hari dapur anda selalu dapat kiriman aroma masakan dari dapur tetangga. Sayur daun ketela dan ikan gereh bakar. Mungkin itu bukan sayur kesukaan anda tapi aroma yang pekat tidak mungkin tidak membuat orang langsung lapar. Dan sialnya, anda tidak bisa memasak sendiri, istri anda juga sedang jadi PRT di Malaysia dan baru pulang hanya jika menjelang lebaran. Mau beli di warung, mungkin dari seribu warung di kota anda hanya satu-dua saja yang kebetulan punya menu yang sama dengan tetangga anda.

Hal itulah yang saya rasakan dengan burung yang satu ini. Burung madu sriganti (Cinnyris jugularis ). Burung yang sangat umum dijumpai mulai dari pekarangan rumah sampai hutan rimba raya. Asal di halaman rumah anda minimal berdiri pohon talok, dijamin setiap hari anda akan melihatnya. Tapi begitu monokuler saya pasang, saya bidik, pas saat itu pula dia sudah pindah posisi. Saya bidik lagi, dia pindah lagi dan begitu seterusnya.

Tidak jauh dengan cinenen, burung madu ini termasuk jenis burung high mobile, atau iyik kalau orang Jogja bilang. Kesempatan anda untuk bisa mengambil fotonya mungkin tidak lebih dari 3 detik. Semoga semua digiscoper di seluruh dunia diberkahi kesabaran extra oleh Tuhan. Karena dengan kesabaran wahyu dari Tuhan akan turun.

burung madu sriganti2

Dan wahyu itu bernama ”bunga”. Namanya juga burung madu pastilah dia suka ngisep nektar bunga, geblek banget…hehe…. Jadi jangan sekali-kali mengejar burung ini kalau pingin dapat fotonya, tapi tunggu dia di tempat dimana dia pasti mampir ngombe, karena ”urip mung mampir ngombe”, maksudnya burungpun juga butuh ngombe (minum).

Kebetulan ada bunga bogem (Bruguera sp) yang tampak merona. Aku pasang aja monokulerku pas mengarah bunga tersebut. Walaupun harus menunggu berjam-jam aku yakin dia pasti akan hinggap di bunga itu.

Dan benar! Pada akhirnya lebaran pasti datang. Istri tercinta juga akan datang dari tanah rantau. Maka permintaan pertamaku jelas bukan sayur daun ketela dan ikan gereh bakar tapi sesuatu yang lebih gurih dari semua jenis masakan di dunia ini: senyum kangen istri tercinta.

Happy birding

Never ending digiscoping

Akhirnya Datang Juga

cica koreng Jawa

Akhirnya Datang Juga!…..Itulah kalimat pertama yang aku ucapkan dalam hati ketika akhirnya ketemu sama burung satu ini, Cica Koreng Jawa (Megalurus palustris). Hampir sama dengan bentet kelabu, tiap kali hunting burung ini pasti nongol. Dan satu-dua frame pasti ada saja foto burung ini. Cuman bedanya dengan bentet kelabu, tidak ada satupun foto yang bisa membuat aku tersenyum. Alias remuk kabeh.

Sebenarnya burung ini juga mudah difoto meskipun dia agak sensitif dengan orang yang tidak dia kenal. Dia suka berkicau, ukuran tubuh sedang, dan suka bertengger di ujung-ujung pohon atau semak. Tapi lagi-lagi masalah keterbatasan teknik digiscoping yang selalu bermasalah dengan background obyek.

Hampir semua foto yang aku dapatkan selalu siluet, ditambah lagi deflaction. Karena burung ini hampir selalu bisa difoto jika dia sudah betengger di ujung pohon yang artinya memaksa saya untuk mengambil gambarnya dengan latar belakang langit. Mungkin kalau ngambil fotonya pas pagi-pagi banget bisa agak mending hasilnya. Tapi kalau ngambilnya pas sudah beranjak siang, belum lagi kalau mendung. Selesai sudah…

cica koreng Jawa 2

Baru setelah aku pergi ke Malang, ke Tahura R.Soeryo, aku dapat foto dia. Berangkat dari rumah habis shubuh, sampai tahura pas jam 6-an, matahari belum muncul penuh karena lokasi tahura ini di sebelah barat daya gunung Welirang yang pasti menutupi cahaya matahari pagi sampai jam 7-an. Begitu jam 7, cahaya matahari langsung menyerbu, dia muncul…ck..ck..terrrrrr…..Akhirnya Datang Juga.

Segera aku pasang mono, bidik, jepret…jepret lagi….jepret lagi….lagi….lagi….modar kowe le…..dalam hatiku. Nggak terasa hampir 50 frame aku habiskan buat motret burung sialan ini. Padahal memory card-ku Cuma 256. Gak peduli asal bisa dapet this f******* bird.

 

Happy birding

Never ending digiscoping